Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah SWT menghendaki kebaikan (Surga) baginya, niscaya ia dibuat pandai dalam ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dari Muawiyah)

google search

Tampilkan postingan dengan label Nashaaih (Nasehat dan pelajaran). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nashaaih (Nasehat dan pelajaran). Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 31, 2008

KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM




Hari-hari ini kita telah memasuki bulan Muharram tahun 1428 Hijriah. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam. Bagi kita, barangkali tahun baru ini tidak seberapa berkesan karena negara kita tidak menggunakan kalender Hijriah, tetapi Masehi. Dan yang akrab dalam keseharian kita adalah hitungan kalender Masehi. Tanggal lahir, pernikahan, masuk dan libur kantor dan sebagainya. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita perlu untuk sejenak menghayati beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini. Beberapa hal yang seyogyanya kita jadikan renungan itu adalah :

1. Syukur atas Usia yang diberikan Allah
Umur adalah nikmat yang diberikan Allah pada kita, dan jarang kita syukuri. Betapa banyak orang yang kita kenal, baik teman, sahabat , keluarga, guru, atau siapa pun yang kita kenal, tahun lalu masih hidup bersama kita. Bergurau, berkomunikasi, mengajar, menasehati atau melakukan aktifitas hidup sehari-hari, namun tahun ini dia telah tiada. Dia telah wafat, menghadap Allah Suhanahu wa ta’ala dengan membawa amal shalehnya dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Sementara kita saat ini masih diberi Allah kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah.
Umur yang kita hitung pada diri kita seringkali kita tetapkan berdasarkan hitungan kalender Masehi. Dan hitungan atau jumlah usia kita tentu akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan hitungan yang mengacu pada kalender hijriyah. Sementara, lepas dari masalah ajal yang akan datang menjemput sewakatu-waktu, terkadang kita menganggap usia kita yang dibanding Rasulullah saw. yang wafat pada usia 63 tahun, kita merasa masih jauh dari angka itu. Padahal bisa jadi hitungan umur kita telah lebih banyak dari yang kita tetapkan. Karena itu sangat tidak layak apabila seseorang yang masih diberi kesehatan, kelapangan rizki dan kesempatan untuk beramal lalai bersyukur pada Allah dengan mengabaikan perintah-perintahNya serta sering melanggar larangan-laranganNya.

2. Muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar.
Ini adalah hal yang penting dilakukan setiap muslim. Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender di rumah kita, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok.
Allah berfirman :


(( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون))

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18).

Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak.
Rasulullah saw bersabda : "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian".
Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata :
"Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah"

3. Mengenang Hijrah Rasulullah saw
Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah Umar bin Khatthab ra tatkala mencanangkan penanggalan Islam. Pada saat itu ada yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai l bulan ada pula yang mengusulkan bulan Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah saw untuk hijrah pasca peristiwa Bai’atul Aqabah, dimana terjadi bai’at 75 orang Madinah yang siap membela dan melindungi Rasulullah SAW, apabila beliau datang ke Madinah. Dengan adanya bai'at ini Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang Qurais senantiasa mengintai beliau.
Peristiwa hijrah ini seyogyanya kita ambil sebagai sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Betapapun berat menegakkan agama Allah, tetapi seorang muslim tidak layak untuk mengundurkan diri untuk berperan didalamnya. Rasulullah SAW, akan keluar dari rumah sudah ditunggu orang-orang yang ingin membunuhnya. Begitu selesai melewati mereka, dan harus bersembunyi dahulu di sebuah goa,masih juga dikejar, namun mereka tidak berhasil dan beliau dapat meneruskan perjalanan. Namun pengejaran tetap dilakukan, tetapi Allah menyelamatkan beliau yang ditemani Abu Bakar hingga sampai di Madinah dengan selamat. Allah menolong hamba yang menolong agamaNya. Perjalanan dari Mekah ke Madinah yang melewati padang pasir nan tandus dan gersang beliau lakukan demi sebuah perjuangan yang menuntut sebuah pengorbanan. Namun dibalik kesulitan ada kemudahan. Begitu tiba di Madianah, dimulailah babak baru perjuangan Islam. Perjuangan demi perjuangan beliau lakukan. Menyampaikan wahyu Allah, mendidik manusia agar menjadi masyarakat yang beradab dan terkadang harus menghadapi musuh yang tidak ingin hadirnya agama baru. Tak jarang beliau turut serta ke medan perang untuk menyabung nyawa demi tegaknya agama Allah, hingga Islam tegak sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk dunia saat itu. Lalu sudahkah kita berbuat untuk agama kita?

4. Kalender Hijriyah adalah Kalender Ibadah kita
Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Akan tetapi hari yang istimewa bagi kebanyakan dari kita bukan hari Jum’at, melainkan hari Minggu. Karena kalender yang kita pakai adalah Kalender Masehi. Dan sekedar mengingatkan, hari Minggu adalah hari ibadah orang-orang Nasrani. Sementara Rasulullah saw menyatakan bahwa hari jum’at adalah sayyidul ayyam (hari yang utama diantara hari yang lain). Demikian pula penetapan hari raya kita, baik Idul Adha maupun Idul Fitri pun mengacu pada hitungan kalender Hijriyah. Wukuf di Arafah yang merupakan satu rukun dalam ibadah haji, waktunya pun berpijak pada kalender hijriah. Begitu pula awal Puasa Ramadhan, puasa ayyamul Bidh ( tanggal 13,14,15 tiap bulan) dan sebagainya mengacu pada Penanggalan Hijriah. Untuk itu seyogyanya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada Kalender Islam ini.

5. Beberapa Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Muharram
a. Bulan Haram
Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk diantara bulan-bulan yang dimuliakan (al Asy- hurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36).
Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain.
Sebagaimana ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita menjaga Shalat Wustha, yang banyak ahli Tafsir memahami shalat wustha adalah Shalat Ashar. Dalam hal ini, shalat Ashar mendapat perhatian khusus untuk kita jaga.
Firman Allah : "Peliharalah segala shalat mu, dan peliharalah shalat wustha" (Q.S. al Baqarah :238) Nama Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini.

b. Bulan Allah
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya.
Rasulullah bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim)


c. Sunnah Berpuasa
Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh.
Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah saw. kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya :

1.Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah saw, bersabda :
“ Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
2. Ibnu Abbas ra berkata :
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
3. Ibnu Abbas ra berkata :
Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab :“ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda :
"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian

Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim)
4.Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata :
Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata : "Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ (H.R. Bukhari dan Muslim)
Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“
Selain hadis-hadis yang menyebutkan tentang puasa di bulan ini, tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan di bulan Muharram ini.

Bagaimana Berpuasa di bulan Asyura ? Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan :
- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11)
- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits
- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut :
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakan
ryang shahih, dimana Rasulullah untuk puasa pada tanggal 9. hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain.
Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah saw untuk melakukan puasa,sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tetunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.

d. Diantara Peristiwa di Bulan Muharram
Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam di sebuah tempat
r cucu Rasulullah tsejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein yang bernama Karbala. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan “Peristiwa Karbala”. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Mu’awiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut.
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan memilukan bagi siapa saja yang mengenang atau membaca kisahnya, , dan kita tentu mencintai dan
rapalagi terhadap orang yang dicintai Rasulullah memuliakannya. Namun musibah apapun yang terjadi dan betapapun kita sangat , hal itu jangan sampai membawa kita larut dalamrmencintai keluarga Rasulullah kesedihan dan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk duka dengan yangrmemukul-mukul diri, menangis apalagi sampai mencela shahabat Rasulullah tidak termasuk Ahli Bait (keluarga dan keturunan beliau). Yang mana hal ini biasa dilakukan suatu kelompok syi'ah yang mengaku memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Ahli Bait (Keluarga Rasulullah), pdahal kenyataanya tidak demikian.

e. Adat Istiadat di Tanah Air
Pada awal Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, di tanah air sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Sang Dewi penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada.
telah mengajarkan pada kita agar
rRasulullah memiliki jati diri sebagai seorang Muslim dalam kehidupan. Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah pada Allah. Ajaran yang dibawa Rasulullah telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya.
Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, yang tidak ada keselamatan kecuali dengan berpegang kepada keduanya dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in dan penerus mereka yang setia berpegang kepada sunnahnya dan meniti jalannya, adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, wal'iyadzubillah.
Semoga kita selalu diberi taufiq dan dibimbing oleh Allah swt. Kejalan-Nya yang lurus serta mendapatkan keridhaan dan ampunany-Nya, amin ya rabbal 'alamin.

Oleh: Islamhouse team Indonesia

Senin, Desember 01, 2008

Keutamaan Sepuluh Hari Dzul Hijjah

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

{ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أََحَبُّ إِلَىاللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنيِ أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ }

"Tiada hari yang lebih di cintai Allah ta'ala untuk berbuat suatu amalan yang baik dari pada hari-hari ini yaitu sepuluh hari Dzul Hijjah, para sahabat bertanya," wahai Rasulullah, tidak pula dengan jihad fii sabilillah? Rasulullah menjawab," tidak, tidak pula jihad fii sabilillah, kecuali jika ia keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tak kembali lagi".

Dan Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah saw bersabda:

{ مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد ِ}

"Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".

Begitu pula Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan dari Jabir ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

{ أَفْضَلُ الأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ }

"Hari yang paling utama adalah hari Arafah"

Amalan-Amalan Yang Disyari'atkan Pada Sepuluh Hari Dzul Hijjah

* Melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan ini adalah amalan yang paling utama. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah saw yang menjelaskan keutamaan haji dan umrah, di antaranya:

{ اَلْعُمْرَةُ إِلىَ الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اْلمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ }

"Dari umrah yang satu ke umrah yang lain sebagai penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya, kecuali surga"

Dan banyak lagi hadits-hadits yang lain.

* Puasa dengan sempurna (penuh) pada sepuluh hari Dzul Hijjah atau semampunya, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji. Tidak diragukan bahwa ibadah puasa merupakan bentuk amalan yang utama dan ia merupakan amalan yang di pilih oleh Allah ta'ala untuk diri-Nya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits Qudsy:

{ اَلصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ }

"Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya, dia (hamba yang berpuasa) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya demi Aku"

Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudry ra berkata, Rasulullah saw bersabda:

{ مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا }

"Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka selama tujuh puluh tahun (jarak tempuh perjalanan selama tujuh puluh tahun) karena puasanya". (Muttafaq Alaih).

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Qatadah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

{ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ }

"Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya"

* Membaca takbir (Allahu Akbar) dan memperbanyak dzikir pada hari-hari ini, Allah ta'ala berfirman:

{ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ َ} (27) سورة الحـج

"Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari –hari yang telah ditentukan". (QS. Al Hajj: 28).

Hari-hari yang telah di tentukan dalam ayat ini ditafsirkan dengan sepuluh hari Dzul Hijjah.

Para ulama berpendapat bahwa disunahkan pada hari-hari ini untuk memperbanyak dzikir, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, termaktub dalam musnad Imam Ahmad:

{ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ }

"Maka perbanyaklah pada hari-hari ini tahlil, takbir dan tahmid"

Imam Bukhari rahimahullah menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzul Hijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang mengikuti takbir mereka berdua.

Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi'in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzul Hijjah:

اَللَّهُ أَكْبَرُ الَّلهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالَّلهُ أَكْبَرُ اَلَّلهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, AllAh Maha besar dan bagi Allah segala pujian"

Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.

Allah berfirman:

{ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ } (185) سورة البقرة

"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu". (QS. Al Baqarah: 185).

Tidak diperbolehkan melantunkan takbir secara jama'i (bersama-sama dengan satu suara), karena hal itu tidak pernah dicontohkan oleh para ulama salaf, karena yang sesuai dengan sunah Nabi adalah bertakbir sendiri-sendiri tidak bersama-sama.

Dan inilah cara yang disyari'atkan pada setiap dzikir dan do'a, terkecuali bila ada seseorang yang tidak mengetahui maka boleh dibaca bersama-sama dengan tujuan untuk mengajarkan.

Dan dibolehkan berdzikir dengan semampunya dari berbagai macam takbir, tahmid, tasbih dan do'a-do'a lain yang disyari'atkan.

* Bertaubat dan menutup setiap pintu maksiat dan dosa, hingga ia meraih ampunan dan rahmat Allah, karena maksiat dapat menjauhkan seseorang dari rahmat-Nya, sedangkan keta'atan dapat mendekatkan seseorang kepada Allah dan meraih cinta-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

{ إِنَّ اللهَ يُغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ اْلَمْرءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ }

"Sesungguhnya Allah cemburu dan cemburunya Allah adalah terhadap hamba-Nya yang melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya"( Muttafaq 'alaih).

* Memperbanyak amal shaleh dan ibadah-ibadah yang di sunnahkan, seperti; shalat, jihad, membaca Al quran, dan beramar ma'ruf nahi munkar dan lain-lain, karena sesungguhnya ibadah-ibadah semacam ini dilipatgandakan pahalanya, bahkan amalan-amalan yang biasa lebih utama dan dicintai Allah dari pada amalan yang utama pada waktu yang lain.

* Disyari'atkan untuk melantunkan takbir di sepanjang malam dan siang hingga shalat Ied (ini dinamakan takbir mutlak), begitu pula takbir muqayyad yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat jama'ah fardhu. Bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, waktu takbir di mulai sejak fajar hari Arafah, sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, waktunya di mulai dari Zhuhur hari qurban hingga Ashar hari tasyriq yang terakhir.

* Disyari'atkan pula qurban pada hari raya Iedul-Adha dan hari-hari tasyriq. Sunnah ini sejak nabi Ibrahim 'alaihissalam, di saat Allah menebus Ismail 'alaihissalam (putera Ibrahim) dengan seekor hewan sembelihan yang besar.

Terdapat dalam hadits shahih bahwa Rasulullah r berqurban dengan dua ekor kambing yang gemuk, beliau menyembelihnya dengan tangan sendiri, dengan cara: membaca bismillah dan bertakbir seraya meletakkan kakinya pada kedua leher kambing. (Muttafaq 'alaihi ).

* Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi saw bersabda,"Bila kalian melihat hilal (bulan sabit) Dzul Hijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkorban maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya". Dan dalam riwayat yang lain dijelaskan," Maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya hingga ia menyembelih qurbannya".

Barangkali hal tersebut diserupakan dengan seseorang yang menggiring sembelihannya, Allah ta'ala berfirman:

{ وَلاَ تَحْلِقُواْ رُؤُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُِ} (196) سورة البقرة

"Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya". (QS. Al Baqarah: 196).

Teks larangan di atas khusus untuk pemilik hadyu (hewan sembelihan yang dibawa dari negri seseorang yang melakukan haji) tidak termasuk istri dan anak, kecuali jika salah satu dari mereka memiliki kurban khusus, dan tidak mengapa membasuh kepala dan menggaruknya meskipun hal itu menyebabkan beberapa helai rambut tercabut.

* Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh melaksanakan shalat Ied, mendengarkan khutbah, mendapat pencerahan ilmu, dan mengetahui hikmah disyari'atkannya shalat Ied, yaitu: hari untuk menggemakan kesyukuran dan beramal kebajikan.

Bukan menodai hari ini dengan kebanggaan dan kesombongan, serta tidak menghabiskan waktu untuk hura-hura dan terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan, semisal; dansa, ke diskotik, mabuk-mabukan dan lain sebagainya yang akan menghapuskan segala pahala amal shaleh di sepuluh hari Dzul Hijjah.

* Akhirnya hendaknya setiap muslim dan muslimah memanfaatkan semaksimal mungkin hari-hari ini untuk ketaatan kepada Allah, dzikir dan syukur kepada-Nya serta memenuhi semua kewajiban dan menjauhi setiap larangan begitu pula meraih karunia-karunia Allah untuk mendapatkan ridha-Nya.

Dan hanya Allah pemberi taufiq dan hidayah kejalan yang lurus, mudah-mudahan Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kesejahteraan-Nya kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Di tulis oleh: Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin.

Jumat, Oktober 31, 2008

AGAR RIZKI MENDAPAT KEBERKAHAN


Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri



AMAL SHALIH MEMBANTU MENDATANGKAN KEBERKAHAN
Setelah terpenuhi dua syarat diatas, keberkahan juga bisa diraih berkat beberapa amal shalih yang nyata telah kita lakukan. Misalnya sebagai berikut.

Pertama : Mensyukuri Segala Nikmat

Tiada kenikmatan, apapun wujudnya yang dirasakan menusia, melainkan datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas dasar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan manusia untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Dengan cara senantiasa mengingat bahwasanya kenikmatan tersebut datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, diteruskan mengucapkan hamdalah, dan selanjutnya menafkahkan sebagai kekayaannya di jalan-jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang telah mendapatkan taufik untuk bersyukur, ia akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sehingga Allah akan senantiasa melipatgandakan kenikmatan baginya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [Ibrahim : 7]

Pada ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri” [An-Naml : 40]

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :”Manfaat bersyukur tidak akan dirasakan, kecuali oleh pelakunya sendiri. Dengan itu, ia berhak mendapatkan kesempurnaan dari nikmat yang telah ia dapatkan, dan nikmat tersebut akan kekal dan bertambah. Sebagaimana syukur, juga berfungsi untuk mengikat kenikmatan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan yang belum dicapai” [8]

Sebagai contoh nyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) : “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugrahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara) dan pohon bidara” [Saba : 15-16]

Tatkala bangsa Saba’ masih dalam keadaan makmur dan tenteram, Allah subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan kepada mereka agar bersyukur. Ini menunjukkan, dengan bersyukur, mereka dapat menjaga kenikmatan dari bencana, dan mendatangkan kenikmatan lain yang belum pernah mereka dapatkan.

Kedua : Membayar Zakat (Sedekah)

Zakat, baik zakat wajib maupun sunnah (sedekah), merupakan salah satu amalan yang menjadi faktor yang dapat menyebabkan turunnya keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” [Al-Baqarah : 276]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo’a) : “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak”, sedangkan yang lain berdo’a :”Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran” [Muttafaqun alaih]

Ketiga : Bekerja Mencari Rizki Dengan Hati Qona’ah, Tidak Dipenuhi Ambisi dan Tidak Serakah

Sifat qona’ah dan lapang dada dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan kekayaan yang tidak ada bandingannya. Dengan jiwa yang dipenuhi dengan qona’ah, dan keridhaan dengan segala rizki yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” [HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Al-Munawi rahimahullah menyebutkan : “Penyakit ini (yaitu tidak puas dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya, pent) banyak dijumpai pada pemuja dunia. Hingga engkau temui salah seorang dari mereka meremehkan rizki yang telah dikaruniakan untuknya ; merasa hartanya sedikit, buruk, serta terpana dengan rizki orang lain dan menganggapnya lebih bagus dan banyak. Oleh karena itu, ia akan senantiasa membanting tulang untuk menambah hartanya , sampai umurnya habis, kekuatannya sirna ; dan ia pun menjadi tua renta (pikun) akibat dari ambisi yang digapainya dan rasa letih. Dengan itu, ia telah menyiksa tubuhnya, menghitamkan lembaran amalannya dengan berbagai dosa yang ia lakukan demi mendapatkan harta kekayaan. Padahal, ia tidak akan memperoleh selain apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan untuknya. Pada akhir hayatnya, ia meninggal dunia dalam keadaan pailit. Dia tidak mensyukuri yang telah ia peroleh, dan ia juga tidak berhasil menggapai apa yang ia inginkan” [9]

Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga kehormatan agama dan diri dalam setiap usaha yang ditempuhnya guna mencari rizki. Sehingga, seorang muslim tidak akan menempuh, melainkan jalan-jalan yang telah dihalalkan dan dengan telah menjaga kehormatan dirinya.

Keempat : Bertaubat Dari Segala Perbuatan Dosa

Sebagaimana perbuatan dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rizki dari pelakunya, maka sebaliknya, taubat dan istighfar merupakan salah satu faktor yang dapat mendatangkan rizki dan keberkahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi Hud Alaihissallam bersama kaumnya.

“Dan (Hud berkata) : Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat deras, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuta dosa” [Hud : 52]

Akibat kekufuran dan perbuatan dosa kaum ‘Ad –berdasarkan keterangan para ulama tafsir- mereka ditimpa kekeringan dan kemandulan, sehingga tidak seorang wanita pun yang bisa melahirkan anak. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu, Nabi Hud Alaihissallam memerintahkan mereka untuk bertaubat dan beristighfar. Sebab, dengan taubat dan istighfar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan hujan, dan mengaruniai mereka anak keturunan. [10]

Kelima : Menyambung Tali Silaturahmi

Di antara amal shalih yang akan mendatangkan keberkahan dalam hidup, yaitu menyambung tali silaturrahim. Ini merupakan upaya menjalin hubungan baik dengan setiap orang yang akan terkait hubungan nasab dengan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, atau ditunda (dipanjangkan) umurnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim” [Muttafaqun ‘alaih]

Yang dimaksud dengan ditunda ajalnya, ialah umurnya diberkahi, diberi taufiq untuk beramal shalih, mengisi waktunya dengan berbagai amalan yang berguna bagi kehidupannya di akhirat, dan ia terjaga dari menyia-nyiakan waktunya dalam hal yang tidak berguna. Atau menjadikan nama harumnya senantiasa dikenang orang. Atau benar-benar umurnya ditambah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. [11]

Keenam : Mencari Rizki Dari Jalan Yang Halal.

Merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta, ialah memperolehnya dengan jalan yang halal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram” [HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibbanm dan Al-Hakim]

Salah satu yang mempengaruhi keberkahan ini ialah praktek riba. Perbuatan riba termasuk faktor yang dapat menghapus keberkahan.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” [Al-Baqarah : 276]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :”Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia akan memusnahkan riba. Maksudnya, bisa saja memusnahkannya secara keseluruhan dari tangan pemiliknya, atau menghalangi pemiliknya dari keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian, pemilik riba tidak mendapatkan manfaat dari harta ribanya. Bahkan dengan harta tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membinasakannya dalam kehidupan dunia, dan kelak di hari akhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyiksanya akibat harta tersebut” [12]

Bila mengamati kehidupan orang-orang yang menjalankan praktek riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti bagi kebenaran ayat dan hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yang hartanya berlimpah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tidak satu pun dari mereka yang merasakan keberkahan, ketentraman dan kebahagiaan dari harta haram tersebut.

Begitu pula dengan meminta-minta (mengemis) dalam mencari rizki, termasuk perbuatan yang diharamkan dan tidak mengandung keberkahan. Dalam salah satu hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sebagian dampak hilangnya keberkahan dari orang yang meminta-minta.

“Tidaklah seseorang terus-menerus meminta-minta kepada orang lain, hingga kelak akan datang pada hari Kiamat, dalam keadaan tidak ada secuil daging pun melekat di wajahnya” [Muttafaqun alaih]

Ketujuh : Bekerja Saat Waktu Pagi.

Di antara jalan untuk meraih keberkahan dari Allah, ialah menanamkan semangat untuk hidup sehat dan produktif, serta menyingkirkan sifat malas sejauh-jaunya. Caranya, senantiasa memanfaatkan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hal-hal yang berguna dan mendatangkan kemaslahatan bagi hidup kita.

Termasuk waktu yang paling baik untuk memulai bekerja dan mencari rizki, ialah waktu pagi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanjatkan do’a keberkahan.

“Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Hikmah dikhususkannya waktu pagi dengan doa keberkahan, lantaran waktu pagi merupakan waktu dimulainya berbagai aktifitas manusia. Saat itu pula, seseorang merasakan semangat usai beristirahat di malam hari. Oleh karenanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keberkahan pada waktu pagi ini agar seluruh umatnya memperoleh bagian dari doa tersebut.

Sebagai penerapan langsung dari doa ini, bila mengutus pasukan perang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di pagi hari, sehingga pasukan diberkahi dan mendapatkan pertolongan serta kemenangan.

Contoh lain dari keberkahan waktu pagi, ialah sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Shakhr Al-Ghamidi Radhiyallahu ‘anhu. Yaitu perawi hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shakhr bekerja sebagai pedagang. Usai mendengarkan hadits ini, ia pun menerapkannya. Tidaklah ia mengirimkan barang dagangannya kecuali di pagi hari. Dan benarlah, keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat ia peroleh. Diriwayatkan, perniagaannya berhasil dan hartanya melimpah ruah. Dan berdasarkan hadits ini pula, sebagian ulama menyatakan, tidur pada pagi hari hukumnya makruh.

Masih banyak lagi amalan-amalan yang akan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan seorang muslim. Apa yang telah saya paparkan di atas hanyalah sebagai contoh

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq dan keberkahan-Nya kepada kita semua. Dan semoga pemaparan singkat ini dapat berguna bagi saya pribadi dan setiap orang yang mendengar atau membacanya. Tak lupa, bila pemaparan diatas ada kesalahan, maka hal itu datang dari saya dan dari setan, sehingga saya beristighfar kepada Allah. Dan bila ada kebenaran, maka itu semua atas taufik dan inayah-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
__________
Footnotes
[8]. Tafsir Al-qurthubi, 13/206
[9]. Faidhul Qadir, 2/236
[10]. Lihat Tafsir Ath-Thabari (15/359) dan Tafsir Al-Qurthubi (9/51)
[11]. Lihat Syarhu Shahih Muslim (8/350) dan Aunul Ma’bud (4/102)
[12]. Tafsir Ibnu Katsir, 1/328

Selasa, Oktober 28, 2008

Manisnya Iman

Sumayah, seorang shahabiyah didera dengan siksa yang keras oleh orang quraish. Semakin keras siksa yang diberikan padanya, semakin kokoh pertahanannya untuk tetap teguh berada di jalan Allah.

Asma binti AbuBakar.Beliau berperan besar dalam hijrahnya Rasulullah. Asma yang memasok makanan kepada Rasulullah yang berangkat malam dan harus kembali sebelum orang-orang quraish bangun, meskipun beliau sedang hamil tua. Suatu tugas yang tidak mudah dan penuh dengan mara bahaya, namun dapat dilakukannya dengan baik.

Mus'ab Bin Umair. Seorang pemuda idaman saat itu dan bila ia lewat, dari jauh sudah tercium bau parfumnya. Ia rela meninggalkan segala fasilitas yang penuh kenikmatan dari orang tuannya hanya untuk memeluk agama islam walaupun ibu yang sangat ia cintai dan hormatinya mogok makan karena ia memeluk Islam.

Apa yang sebenarnya menyebabkan mereka mempunyai keteguhan seperti itu? . Faktor-faktor apa yang mereka punyai?. Bila dilihat benang merahnya adalah karena mereka dapat merasakan betapa manisnya iman itu. Apapun yang terjadi, rintangan apapun yang ada dan siksaan macam apapun, hal itu tidak akan dapat menggoyahkan pendiriannya.

Sering kita dengar bahwa iman itu sebagai nikmat yang paling besar atau hidayah yang paling tinggi, paling berharga yang diberikan Allah pada kita (QS: 3:164).

Sebagai perumpamaan dapat dilihat bagaimana anak kecil yang berumur 2 tahun menemukan kalung berlian. Mungkin kalung itu akan dimainkan dan dicampurkan dengan tanah atau malah dipisah dari talinya. Hal ini terjadi karena mereka tidak tahu bahwa kalung berlian itu sesuatu yang berharga. Begitu juga dengan orang-orang yang tidak mengenal secara baik apa iman itu dan bagaimana harus memperlakukannya.

Apakah perasaan atau kemampuan merasakan iman itu sebagai suatu nikmat monopoli para ulama, sahabat, ustazd dsbnya ?.
Jadi Bagaimanakah cara merasakannya.

Rasulullah sendiri telah memberikan resepnya pada kita semua dalam sebuah hadis yang isinya kurang lebih menyebutkan bahwa barang siapa yang memiliki 3 hal, dia akan merasakan manisnya iman. Tiga hal itu adalah:
-menjadikan Allah dan RasulNya sebagai yang ia cintai melebihi yang lainnya
-mencintai seseorang karena Allah
-dan tidak suka/ingin kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dicampakkan ke dalam api neraka

Segala beban derita akan terasa ringan dikala mencintai Allah SWT. Hanya ridho Allah yang menjadi tujuannya, seperti yang dialami oleh para sahabat di atas untuk tetap teguh berada di jalan Allah.
Para sahabatpun begitu sangat mencintai Rasulullah. Misalnya bagaimana Abu Bakar, yang badannya telah babak belur dan luka luka setelah dipukul oleh kaum Quraish pertanyaan yang muncul pertama kali setelah sadar apa yang terjadi adalah ?Bagaimana keadaan Rasulullah??. Abu Bakar sendiri tidak peduli dengan keadaan tubuhnya saat itu. Yang ia pikirkan hanya Rasullah karena Rasulullah ada disampingnya sebelum ia dipukul oleh kaum Quraish. Begitu besarnya cintanya pada Rasulullah. Wujud cinta kita pada Rasulullah yang dapat dilakukan adalah dengan menjalankan sunnahnya .

Dengan mencintai saudara seiman , iman juga akan terasa manis. Salah satu hadist yang memperlihatkan pentingnya mencintai orang lain adalah ? Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian belum beriman sampai kalian saling mencintai, .......?. dstnya.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah manisnya iman dapat dirasakan dengan mencintai Allah dan RasulNya serta membenci apa-apa yang di benci Allah dan RasulNya.

Wallahualam .




Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi lelaki ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bermohonlah kepada Allah dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
(QS 4:32)

Kepribadian Pemuda Da’i

Seorang pemuda Islam ketika menyongsong kehidupan masa depan dihadapkan oleh satu kenyataan bahwa sesungguhnya, ditangannya tergenggam berbagai tugas berat. Artinya, ia adalah pengemban risalah Islam. Beban ini merupakan amanah yang amat mulia dan inti dari seluruh tujuan dan cita-cita hidupnya.

Oleh karena itu, untuk menunjang potensi seorang pemuda, ia harus memiliki dasar-dasar kepribadian yang kuat. Secara eksplisit dasar-dasar kepribadian tersebut dapat diterangkan sebagai berikut:

Pertama, mengetahui, menyadari, dan mencanangkan hakekat tujuan hidup. Ia hanya bisa berdakwah bila telah memahami orientasi kehidupannya secara baik. Tanpa hal itu segala apa yang akan dilakukannya akan berjalan tanpa arah tujuan yang jelas.

Walau bagaimanapun, tujuan hidup itu merupakan motivator utama bagi hidupnya ruh dan jiwa. Segalanya ditujukan hanya untuk Allah. Karena itulah, seorang mujahid rela mengorbankan apa saja yang ia miliki hanya untuk Dia. Dia-lah Yang Maha Menentukan awal dan akhir seluruh proses kehidupan.

Kedua, seorang yang akan terjun ke medan dakwah harus mempelajari kondisi dunia yang sedang terjadi. Ia harus menyadari berbagai ancaman dan tipu daya yang sedang diarahkan dan dilancarkan. Dengan demikian, ia akan bersemangat dan berambisi untuk membebaskan dunia ini dari cengkeraman berbagai kezhaliman, khususnya negara-negara Islam.

Ketiga, seorang da’i akan menghadapi berbagai tantangan dan problematika yang senantiasa menghadangnya. Ia pun akan menghadapi banyak kesulitan, baik itu dalam bentuk terror, intimidasi, pemboikotan, dan sebagainya. Oleh karena itu, pemuda da’i harus memiliki jiwa dan mental yang tangguh. Sebagai harapan bangsa dan agama, ia pun berkewajiban untuk menjaga dan membentengi diri dari berbagai serangan musuh yang dapat melemahkan semangat jihad. Putus asa bukanlah sikap yang dapat menghantarkan seoarng pemuda sebagai da’i yang tangguh.

Keempat, acuan yang paling tepat untuk para pemuda da’i adalah teladan para sahabat dan para tokoh utama sejarah Islam. Mereka adalah pelaku-pelaku dakwah yang kokoh, kuat, tangguh, cerdik, dan berakhlak mulia. Dari merekalah kita bisa mengambil banyak pelajaran berharga.

Kelima, satu hal yang menjadi pendorong utama bagi seorang da’i adalah mengetahui keutamaan tugas suci ini, yakni tugas untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran di dalam dada umat manusia dan menyadarkan mereka akan hakekat kehidupan ini sebenarnya.

Mereka harus memiliki keahlian berinteraksi secara persuasif sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk bersikap dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Tak kalah penting juga apabila ia memiliki haibah (wibawa) yang terpancar melalui kemuliaan kepribadiannya sebagai seorang figur da’i yang tangguh. Dengan demikian dakwahnya pun tidak hanya dapat menarik simpati dari banyak massa, tetapi lebih dari itu akan menjadi pelita hidayah sepanjang masa.

Keenam, memperdalam keyakinan qadha dan qadar yang merupakan bagian dari akidah Islam. Dengan memperdalam akidah tentang qadha dan qadar, akan membuat dirinya selalu merasa optimis. Ia pun tidak akan pernah takut menghadapi segala macam rintangan karena sepanjang perjalanan dakwah ia selalu berpijak pada dasar taqwa dan tawakal.


Sumber: Figur Pemuda Islam karya Hasan al Banna

Resep Tsabat

Oleh: Agus Widodo

Pertarungan antara pendukung kebatilan dengan kebenaran tak kenal kata istirahat. Pertarungan ini bisa mengambil bentuk pertarungan fisik, pertarungan ideologi dan dapat pula berbentuk pertarungan informasi. Setiap Muslim sadar atau tidak, pasti terlibat pertarungan panjang tak berujung ini.

Salah satu sifat yang harus dimiliki "jundi" (prajurit) Muslim sebagai bekal dalam menerjuni pertarungan ini adalah "ats-tsabat" (keteguhan, ketegaran). Firman Allah Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian memerangi pasukan (musuh) maka berteguh-hatilah kalian dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, agar kalian berbahagia." (Q.S. Al Anfal:45).

Berdasarkan ayat di atas, "tsabat" memiliki posisi amat penting dalam daftar perbekalan yang harus dimiliki oleh orang yang sedang berjuang untuk memerdekakan umat manusia.

Oleh karena itu bagai seorang "jundi", "tsabat" merupakan sifat "harakiyah" yang apabila ia kehilangan sifat tersebut, secara otomatis "kejundiannya" tercabut dari dirinya.

Sejarah mencatat, bagaimana perjuangan Islam yang gagal akibat adanya orang-orang yuang terlibat dalam perjuangan kehilangan sifat "tsabat". Kekalahan (kalau kata ini tepat) yang dialami kaum Muslimin dalam Perang Uhud pun terjadi akibat adanya beberapa anggota pasukan pemanah yang tidak tsabat karena melihat "ghanimah" yang ditinggalkan musuh.

Tak dapat dipungkiri, untuk menangkal, menghadapi serta membalas kebrutalan jahiliyah yang ditopang berbagai kekuatan, umat Islam wajib memiliki kekuatan yang memadai dan seimbang dengan yang dimiliki musuh. Propaganda, "tabligh" atau "ta'lim" semata, tidak mungkin dapat menghancurkan benteng jahiliyah yang didukung kekuatan-kekuatan material, finansial, militer, politik disamping kekuatan propaganda dan informasi.

Umat Islam wajib memiliki kekuatan propaganda dan da'wah, sebagaimana ia wajib memiliki kekuatan finansial, politik dan militer.

Namun apalah artinya semua kekuatan itu tanpa adanya sikap mental yang prima. Segala faktor kekuatan eksternal itu akan menjadi tak berarti manakala tidak didahului dengan adanya kekuatan internal, berupa sikap dan sifat yang positif, diantaranya adalah "tsabat".

FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG TSABAT

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan, mempertahankan atau meningkatkan sifat "tsabat" ketika terjun di belantara da'wah, tarbiyah dan jihad. Di antaranya:

1. Mengakrabi Al-Qur'an

Al-Qur'an Al-Karim adalah sumber utama bagi tumbuh dan meningkatnya "tsabat", dalam jiwa seorang Muslim. Sebab Al-Qur'an merupakan tali penghubung yang amat kokoh antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Allah Ta'ala telah menegaskan bahwa Al-Qur'an mampu meneguhkan hati orang-orang yang mengimaninya. Firman-Nya:

"Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Rabb-mu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Q.S. An Nahl 102).

Ada beberapa hal yang menjadikan Al-Qur'an sumber "tsabat":

Pertama, Al-Quran menanamkan keimanan dan mempertautkan hati seorang Muslim dengan Allah Ta'ala. Membaca dan mendengar ayat Al-Qur'an dengan penuh tadabbur dan penghayatan, mampu menghadirkan perasaan sedang berhadapan dengan Allah menerima segala pesan, nasihat, perintah, dan larangan-Nya. Hal ini akan menjadi bekal ketika ia mengarungi kehidupan dengan segala serba-serbinya.

Kedua, Al-Qur'an membekali seseorang dengan persepsi, konsepsi serta nilai-nilai yang dijamin kebenarannya, sehingga ia mampu menialai dan menimbang segala sesuatu dengan proporsional dan benar. Orang-orang yang memahami Al-Qur'an, pasti tahu bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara. Dengan demikian dia akan menyikapi dunia ini dengan cara yang wajar sesuai dengan kehendak penciptanya.

Ketiga, Al-Qur'an menjawab berbagai tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang kafir dan munafik atau musuh Islam lainnya, serta mematahkan logika mereka yang rancu. Sehingga sikap "tsabat" yang tumbuh didasari kejelasan dalil yang ada.

Dalam kaitan ini Rasulullah SAW bersabda"

"Perumpamaan orang-orang Mu'min yang membaca Al-Qur'an bagaikan buah utrujah, baunya harum dan rasanya juga ni'mat. Dan perumpamaan orang mu'min yang tidak suka membaca Al-Qur'an bagaikan buah korma, rasanya manis tapi tidak berbau harum."(H.R. Muttafaq 'alaih).

2. Tarbiyah yang kontinyu dan bertahap

Tarbiyah (pendidikan, pembinaan) yang dijalankan secara kontinyu dan bertahap dengan sasaran dan tujuan yang jelas merupakan faktor asasi bagi terwujudnya "tsabat", dengan tarbiyah yang kontinyu ("istimrar") seseorang akan belajar dan terbiasa memikul beban-beban da'wah. Dengan adanya sasaran-sasaran dan tujuan ("ghayah") yang jelas, seseorang akan memahami sudah sejauh mana dia berjalan bersama Islam.

Keimanan yang mendalam, pemahaman Islam yang "syamil" (utuh) serta akhlaq yang tinggi yang didukung dengan semangat jihad yang tinggi, yang kesemuannya itu merupakan motor "tsabat", tidak mungkin terwujud tanpa pola pembinaan atau da'wah yang serabutan.

3. Memahami watak jalan da'wah dan perjuangan

Jalan da'wah tak hanya penuh onak dan duri, akan tetapi lebih dari itu, di atas jalan da'wah ada ranjau, ada mesiu dan ada bom waktu. Ada mata-mata yang mengintai dan seribu satu macam penghalang. Jalan da'wah juga bukan jalan yang dapat diukur dengan umur seseorang atau satu generasi. Panjang jalan da'wah sepanjang jalan kehidupan manusia di muka bumi ini.

Orang yang tidak memahami watak jalan da'wah dengan segala rintangan, ujian dan tantangannya akan mudah "shock" ketika dihadapkan pada tantangan atau mengalami "futur" (kelesuan) ketika dibenturkan pada ujian. Firman Allah Ta'ala:

"Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan dari (jenis) manusia dan dari (jenis) jin."(Q.S. Al An'am:112)

4. Iltizam dengan syari'at Allah dan amal sholeh

Allah Ta'ala berfirman:

"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan teguh itu (kalimat thayyibah) dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (Q.S. Ibrahim:27)

Orang yang malas melakukan amal sholeh dan senang hidup berleha-leha akan sulit bertahan tegar ketika gelombang fitnah menerpanya. Sebaliknya, orang yang rajin dan iltizam dengan syari'at Allah akan memiliki ketegaran dan keteguhan dalam menghadapi fitnah.

Oleh karena itu Rasulullah SAW dalam hidupnya senatiasa menjaga amal sholeh, dan amal yang paling beliau sukai adalah yang dilakukan secara kontinyu walaupun sedikit. Para sahabatnya pun jika melakukan pekerjaan, mereka menjaganya agar berjalan secara kontinyu. Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Barangsiapa yang memelihara shalat 12 rakaat (sunah rawatib) ia dijamin masuk surga."(Sunan At-Tirmidzi)

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman:

"Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya." (H.R. Bukhari )

5. Menghayati perjalanan hidup hamba-hamba Allah yang terdahulu

Teramat banyak pelajaran yang dapat membantu menumbuhkan "tsabat" yang dapat digali dari sejarah perjuangan hidup orang-orang sholeh yang telah kembali kepangkuan-Nya, mulai dari para nabi terutama Nabi Muhammad SAW, para sahabat Rasulullah SAW, para tabi'in dan sebagainya. Al-Qur'an sendiri menyebutkan banyak contoh ketegaran para utusan-Nya dalam menyebarkan risalah-Nya, dan Allah menegaskan di dalamnya:

"Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah setiap rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat itu telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (Q.S. Hud:120)

Di dalam Al-Qur'an digambarkan bagaimana para utusan Allah diburu, disiksa atau dibunuh oleh para penentangnya, namun demikian mereka tetap teguh dengan keimanannya. Rasulullah SAW sendiri mendapatkan perlakuan yang tidak berbeda dengan yang diterima oleh para pendahulunya, juga para sahabat.

Menyadari bahwa nenek moyang kita - Rasulullah SAW dan para sahabatnya merupakan umat yang besar, adalah kekayaan kita. Mengkaji dan menghayati setiap langkah gerakan generasi sahabat merupakan asset kebangkitan umat Islam. Membuka kembali lembaran-lembaran jihad dan perjuangan mereka dalam membangun Islam adalah modal perjuangan umat Islam yang tiada ternilai harganya.

6. Yakin bahwa masa depan di tangan Islam

Sunnatullah telah menentukan bahwa jika terjadi pertarungan antara yang iman dan kufur, antara yang haq dan bathil, yang akan keluar sebagai pemenang adalah iman dan al-Haq, betapapun besarnya kekuatan kebathilan itu.

Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan yang diraih oleh umat Islam dalam perjuangannya menegakkan "kalimatullah" bukanlah karena kekuatan material yang dimiliki umat Islam lebih besar dari yang dimiliki lawan. Yang tercatat bahkan sebaliknya, umat Islam dari segi materi selalu dalam posisi yang lemah.

Perhitungan matematis manusia mengatakan, Muslimin generasi pertama berpeluang untuk dilumat habis oleh musyrikin Quraisy. Beberapa alasan bisa dikemukakan; persiapan yang kurang matang karena tidak ada rencana untuk memerangi pasukan bersenjata Quraisy, yang diburu adalah iring-iringan unta yang membawa barang dagangan, personil yang berjumlah kecil - satu berbanding tiga - dibandingkan dengan orang-orang kafir, serta perlengkapan yang apa adanya. Itu semua dianggap cukup menjadi alasan bagi kekalahan kaum Muslimin.

Namun perhitungan seperti itu hanya berlaku dalam pertempuran antara kebathilan melawan kesesatan. Dalam pertempuran seperti ini kekuatan benar-benar menjadi andalan utama.

Sunnatullah kemenangan iman atas kekafiran itu terus berlangsung dan berulang dalam sejarah pertarungan antara keduanya. Catatan terakhir yang kita baca (bahkan kita saksikan) dalam perjuangan kontemporer adalah perjuangan Afghanistan atas tentara komunis Rusia dan para bonekanya. Kemenangan ini sungguh spektakuler di luar perhitungan matematis manusia.

Inilah kebenaran janji-janji Allah Ta'ala Pengendali alam semesta:

"Dan mereka (orang-orang kafir) merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya." (Q.S. An-Naml 50-51)

Firman-Nya pula:

"Maka Kami beri kekuatan kepada orang-orang yang beriman (dalam mengalahkan)musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang yang menang." (Q.S. As-Shaff:14)

Firman-Nya pula:

"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)."(Q.S. Al Mu'min:51)

Keterlambatan kemenangan, boleh jadi membawa hikmah dan pelajaran. As-Syahid Sayyid Quthb dalam Dzilal-nya menyebutkan tidak kurang dari delapan hikmah/pelajaran yang bisa ditarik dari ditangguhkannya kemenangan oleh Allah (lihat Fii Dzilalil Qur'an, yang berkaitan dengan ayat 38 surat Al-Hajj).
Beberapa di antaranya:

Pertama, boleh jadi karena bangunan umat Islam belum sempurna, masih banyak potensi dan kekuatan yang belum tergali. Sehingga andaipun ia mendapat kemenangan, umat Islam tidak akan mampu mempertahankannya.

Kedua, boleh jadi "thagut" yang sedang diperangi umat Islam berkedok Islam, sehingga sebagian besar umat Islam tertipu olehnya dan menjadi pembelanya.

Ketiga, boleh jadi dalam memperjuangkan Al-Haq, umat Islam masih memiliki tujuan-tujuan lain selain tegaknya kalimatullah. Sedangkan Allah menginginkan jihad itu murni bertujuan mencari ridla-Nya.

7. Merenungkan kenikmatan "jannah", siksa neraka dan mengingat kematian

Jannah adalah tempat yang sarat dengan kenikmatan dan kegembiraan yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia sekarang.

Jiwa manusia memiliki watak tidak senang berkorban atau bersusah payah dalam menghadapi cobaan, kecuali jika ia tahu ada imbalan yang dijanjikan. Dengan demikian segala kesulitan akan dirasakan ringan dan segala penderitaan akan dianggap sebagai cambuk untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

Rasulullah SAW dalam memperteguh keimanan para sahabat r.a., juga mengingatkan mereka dengan kenikmatan jannah. Ketika Rasulullah SAW lewat kepada Yasir, istrinya dan Ammar yang sedang menanggung siksaan dari orang Quraisy gara-gara mereka beriman, beliau mengatakan, "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, bersabarlah walai keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah surga."

Sebaliknya, ketika kita ingat adzab akhirat demikian dahsyat dan pedihnya, kita akan segera sadar bahwa bencana apapun yang ditimpakan oleh manusia kepada kita ketika berjuang di jalan Allah, tidak seberapa dibandingkan dengan adzab Allah di neraka nanti.

Salah satu bentuk siksaan Allah yang digambarkan dalam Al-Qur'an:

"Setiap kali matang (hancur) kulit-kulit mereka (penghuni jahannam), Kami ganti dengan kulit-kulit yang baru, agar mereka merasakan siksaan." (Q.S. An Nissa:56)

8. Dzikir dan Do'a

Di antara sifat-sifat para hamba Allah ('ibadur-rahman), senantiasa memohon kepada Allah agar diberi keteguhan ("tsabat"). Sebab upaya apapun yang dilakukan sebagai manusia, tidak akan mencapai apa yang dia inginkan bila tidak mendapat taufiq dari Allah Ta'ala.

Al-Qur'an menggambarkan bahwa orang-orang beriman selalu memanjatkan do'a:

"Ya Allah janganlah Engkau menjadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami."(Q.S.Ali'Imran 8)

Do'a yang dipanjatkan oleh orang-orang beriman yang menjadi tentara Thalut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (Q.S. Al Baqarah 250)

Rasulullah SAW menjelaskan:

"Seluruh hati anak Adam terdapat di antara dua jari dari jemari Ar-Rahman (Allah Ta'ala) bagaikan satu hati, ia memalingkannya kemana saja yang ia kehendaki." (H.R. Ahmad dan Muslim)

Oleh sebab itu amatlah wajar kalau Rasulullah SAW banyak memanjatkan do'a:
"Ya Allah Yang membolak-balikkan hati (manusia), teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (H.R. At-Tirmidzi)

Demikianlah beberapa petunjuk yang dapat kita amalkan guna menumbuhkan "tsabat" di dalam jiwa. Akhirnya semua terpulang kepada kemauan tekad kita masing-masing. Wallahu waliyut taufiq wahua a'alm bish shawwab.


Catatan: Tulisan ini merupakan modifikasi dari buku "Wasaailuts Tsabat 'alaa Diinillah", karya Muhammad Shaleh Al Munajjid

Referensi: "Fii Dzilalil Qur'an", oleh Asy-Syahid Sayyid Quth "Yang Berjatuhan Di Jalan Da'wah", oleh Syeikh Fathiyakan
"Komitmen Muslim Kepada Harakah Islamiyyah", oleh Syeikh Fathiyakan.

Qiyaamullail (Salat Malam)

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Allah SWT telah berfirman, yang artinya, "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan, di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian." (Adz-Dzaariyaat: 17--19).

”(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabnya?” (Az-Zumar: 9).

Allah Azza wa Jalla telah mendidik dan mensucikan Rasulullah saw. dengan kewajiban mulia ini. Allah SWT berfirman, "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit." (Al-Muzzammil: 1--3).

"Dan, pada sebahagian malam hari salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (Al-Israa': 79).

Abu Abdurrahman as-Salmi rhm. berkata, "Tatkala ayat dari surah Muzzammil diturunkan, Rasulullah saw. dan para sahabatnya melaksanakan salat malam selama setahun hingga kaki mereka bengkak-bengkak. Lalu, Allah menurunkan ayat-Nya, yang artinya, "Sesungguhnya Rabmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan, Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat….”(Al-Muzzammil: 20).

Allah SWT menjadikan salat malam sebagai sekolah bagi jiwa dan obat jiwa dan fisik. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Hendaknya kalian mengerjakan salat malam karena ia merupakan kebiasaan orang saleh sebelum kalian, pendekatan kepada Rab kalian, pencegahan dari perbuatan dosa, menghapus kesalahan dan mengusir penyakit dari tubuh."

Seorang hamba yang melaksanakan salat malam di sepertiga malam yang terakhir, berdiri dan duduk, ruku dan sujud, berdoa dan merendahkan diri, menangis dan bertobat, maka Allah pada waktu itu akan memandang kepadanya dengan pandangan rahmat, waktu ketika Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia dan berfirman, "Siapa yang meminta, Aku beri. Siapa yang meminta ampunan, Aku beri ampunan. Siapa yang bertobat, Aku terima tobatnya. Siapa yang berdoa, Aku penuhi doanya." Itulah waktu di akhir malam di waktu sahur, waktu turunnya rahmat dan mengandung banyak keberkahan. Allah menerima tobat orang yang bertobat kepada-Nya, mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya, memberi orang yang meminta-Nya, siapa yang mendekat kepada-Nya sejengkal, Ia akan mendekat kepada orang itu sehasta. Bila ia mendekat kepada Allah sehasta, Allah akan mendekat kepadanya sedepa. Dan, siapa yang datang kepada-Nya dengan berjalan, Allah akan mendatangi orang itu dengan berjalan dengan bergegas.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Rasulullah saw. bila mengerjakan qiyaamullail (salat malam), beliau melamakan berdiri--dan ini adalah sunah--, dan begitulah para sahabat melakukannya hingga mereka bersandar kepada tongkat akibat lamanya berdiri.

Bila kalian merasa berat atau susah dengan lamanya berdiri, ingatlah hari ketika manusia berdiri menghadap Rab alam semesta. Ingatlah lamanya berhenti di hadapan Allah di hari yang orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Ingatlah ketika kamu berhenti di dunia ini untuk mendapatkan bagian dari dunia, padahal Allah Jalla Jalaaluhu lebih berhak untuk kita berhenti di hadapan-Nya, mengatur kaki mendekat kepada-Nya dan bersemangat untuk memperoleh pahala dan ganjaran dari-Nya. Adalah Rasulullah saw. bila mengerjakan salat malam hingga bengkak kedua kakinya.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Rasulullah saw. memerintahkan kepada para sahabatnya agar melaksanakan salat malam. Abdullah bin Umar r.a. berkata, "Saya adalah pemuda bujangan. Saya tidur di masjid, lalu saya bermimpi didatangi dua orang malaikat dan membawaku ke neraka dan ia seperti sumur yang dilipat. Dan, mendadak kedua malaikat itu menghubungkannya seperti dua tanduk sumur. Maka aku mendapati di dalamnya manusia yang aku mengenal mereka, lalu aku berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari api neraka. Aku berlindung kepada Allah dari api neraka." Kedua malaikat itu lalu berkata, "Engkau tidak akan takut … engkau tidak akan takut." Peristiwa ini lalu aku ceritakan kepada Hafsah, dan ia kemudian menceritakannya kepada Rasulullah saw., lalu Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik orang adalah Abdullah, bila ia melakukan salat malam. Maka, setelah itu Abdullah bin Umar tidak meninggalkan salat malam. Ia tidak tidur malam kecuali hanya sedikit karena Allah Azza wa Jalla memuji atas orang yang zuhud terhadap dunia dan menghabiskan waktunya untuk Rabnya. Ia menyendiri dengan Allah dalam kegelapan malam ketika mata manusia telah terpejam, gerakan telah diam, dan suara telah sunyi. Ia mneyendiri bersama Rab Azza wa Jalla. Maka Allah SWT berfirman, "(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (Ali Imran: 17). Allah mengenakan kepada mereka cahaya dari cahaya-Nya, memberikan kepada mereka mahabah (kewibawaan) di hati para makhluk dan menjadikan ucapan dan perbuatannya manis dan diterima manusia. Itulah para sahabat Muhammad saw. Mereka perutnya kosong karena lapar dan matanya kabur karena tidak tidur. Mereka sujud dan ruku kepada Rabnya di waktu malam.

Muadz bin Jabal r.a. berkata, "Kami datang dari Perang Tabuk, lalu saya melihat Rasulullah saw. tengah sendirian, Lalu aku mendatangi beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amal perbuatan yang bisa mendekatkan diriku kepada surga." Rasulullah saw. bersabda, "Bagus … bagus … sesungguhnya engkau telah bertanya tentang sesuatau yang besar dan sesungguhnya itu adalah kemudahan bagi yang dimudahkan oleh Allah. Engkau melaksanakan salat yang ditetapkan (salat wajib), menunaikan zakat yang diwajibkan, menjumpai Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, melaksanakan salat malam karena salat seseorang dalam sepertiga akhir dari malam akan menghapus kesalahan, bukankah aku telah menunjukkan kepadamu atas tiang itu semua, salat adalah cahaya dan sedekah adalah bukti."

Rasulullah saw. memerintahkan kepada Mu'adz bahwa bila ia menginginkan surga, hendaknya ia melaksanakan salat malam. Dan Mu'adz pun melaksanakan wasiat tersebut, ia melakukan salat malam dan berkata, "Ya Allah, bintang-bntang telah terbenam, mata telah tenang, dan Engkau Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur. Ya Allah, sesungguhnya permintaanku kepada surga pelan dan lariku dari api neraka lemah, maka berilah aku petunjuk dari sisi-Mu yang engkau benamkan untukku hingga hari kiamat, sesungguhnya Engkau tidak menyelisihi janji." Mu'adz kemudian membiasakan salat malam, melaksanakan wasiat Rasulullah saw. Ketika kematian datang kepadanya, ia berkata, "Selamat datang kematian. Ya Allah, sesungguhnya saya takut kepadamu dan hari ini saya mengharap kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui saya tidak senang tetap berada di dunia untuk menggali sungai atau menanam tumbuhan, tetapi saya ingin tetap tinggal di dunia untuk merasakan dahaga di panas yang terik, tidak tidur di waktu malam, dan berada dalam lingkaran ilmu bersama para ulama." Itulah sahabat Rasululullah saw., Mu'adz bin Jabal r.a.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Abu Hurairah r.a. pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla membenci setiap ja'dhari jawwath (orang yang keras, kasar, pelahap dan berjalan dengan sikap sombong), yang berteriak di pasar, menjadi bangkai di malam hari dan menjadi keledai di siang hari, mengetahui perkara dunia bodoh terhadap urusan akhirat."
Sejelek-jelek sifat adalah berjalan dengan sombong, keras, kasar, dan banyak minum, berteriak-teriak di pasar, menjadi bangkai di malam hari, senantiasa tidak bangun malam, siang hari menjadi keledai, mahir dengan perkara dunia, mengetahui dan paham kondisinya, tetapi ia bodoh terhadap urusan akhirat, ia tidak bertanya tentang halal dan haram, ia tidak mengetahui mana sunah dan mana wajib, tidak terdetik sehari pun untuk membaca sesuatu dari Alquran, na'uudzubillaahi dari kondisi seperti itu.
Allah Azza wa Jalla membenci orang yang memiliki sifat di atas, setiap yang keras, yang kasar, pelahap, yang berjalan dengan sikap sombong, yang berteriak di pasar, menjadi bangkai di malam hari dan menjadi keledai di siang hari, mengetahui perkara dunia bodoh terhadap urusan akhirat. Abu Hurairah mendengar perkataan tersebut dari Nabi saw. Maka kalimat-kalimat itu tertanam dalam hati Abu Hurairah r.a. Abu Utsman an-Nahdiyyi r.a. berkata, "Saya datang sebagai tamu kepada Abu Hurairah selama tujuh hari. Ia, istrinya, dan pembantunya saling membagi malam. Ia salat ini kemudian membangunkan itu, dan salat itu dan membangunkan ini. (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam)." Keadaan mereka seperti keadaan keluarga Daud yang Allah berfirman untuk mereka, "Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (Saba': 13).

Dhirar bin Dhamrah al-Kanani berkata menyifati Ali r.a., "Ali adalah orang yang sangat kuat, langkahnya jauh, berkata dengan jelas dan berbicara dengan adil. Dari sekelilingnya terpancar ilmu dan dari sisi-sisinya hikmah berbicara. Demi Allah, ia seperti salah seorang di antara kita, akan mendekati kita bila kita mendatanginya dan memulai kita bila kita bertanya kepadanya. Ia tidak suka terhadap dunia dan perhiasannya, tetapi suka dengan malam dan kegelapannya. Saya bersaksi kepada Allah, saya telah melihatnya dalam sebagian sikapnya, saat malam telah menurunkan tabirnya dan bintang telah tenggelam, ia memegang jenggotnya meliuk-liukkan orang miskin dan menagis tangisan orang sedih. Ia berdoa, "Ya Rab kami, ya Rab kami, kemudian ia berkata, "Wahai dunia, tipulah orang lain selainku, pergilah jauh-jauh … saya telah menceraikanmu dengan tiga, kedudukanmu hina, usiamu pendek, dan perkaramu mudah, ah sedikitnya bekal, risaunya perjalannya, dan jauhnya jalan".

Begitulah para sahabat Muhammad, maka marilah kita mencontoh mereka dalam perilaku dan sikap, termasuk dalam melaksanakan salat malam. Kita tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari manusia, tetapi yang kita harapkan adalah balasan dan rida Allah SWT. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang sabar dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Amin. Wallahu a'lam.

Oleh: alislam.or.id