Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah SWT menghendaki kebaikan (Surga) baginya, niscaya ia dibuat pandai dalam ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dari Muawiyah)

google search

Kamis, Januari 15, 2009

Diwawancara “Wall Street Journal,” BUSH Ngaku Perang IRAQ Ideologis!!




Surat kabar “Wall Street Journal,” mengadakan wawancara dengan presiden Amerika yang sebentar lagi akan turun ke prabon, George W Bush. Dalam wawancara itu, Bush berbicara tentang catatannya selama menjadi presiden. Ia membela agenda-agenda demokrasinya dan menilai perang Iraq sebagai peletakan batu pertama bagi kebijakan yang lebih luas untuk melayani “agenda kebebasan” di timur tengah. Ia juga memuji kebijakan campur tangannya dalam urusan ekonomi yang diambilnya dan mengaku gagal dalam melengkapi rencana-rencana khususnya yang berkaitan dengan jaminan sosial dan imigrasi.

Kimberley any Strassl, sang pewawancara mengatakan, Bush tampak optimistis dan merasa nyaman dengan kebijakan-kebijakan lamanya serta merasa yakin dengan masa depan. Pewawancara itu menyiratkan, Bush telah menyinggung sejumlah prestasi dengan menyebutnya sebagai buah prestasi pribadinya, termasuk reformasi di bidang pendidikan dan kesehatan. Ia juga mengungkapkan rasa bangganya karena telah berhasil mengurangi pungutan pajak, memerangi protektionisme dan menyugesti perdagangan bebas.

Bush menolak untuk mengakui bahwa perbaikan jaminan sosial merupakan korban dari perang Iraq. Ia menganggap langkah-langkahnya terkait dengan sektor ini belum lagi terlaksana karena badan legislatif lebih cenderung untuk menghindari resiko sebab melakukan restrukturisasi dan memperbaiki jaminan sosial menuntut resiko tinggi. Lagi pula –katanya-, menuntut kepada kongres agar menyikapi masalah yang tidak begitu penting sangat sulit dilakukan.

Surat kabar itu juga mengatakan, Bush masih menolak untuk mengakui bahwa persoalan anggaran yang dihadapi pemerintahannya merujuk kepada tingginya biaya pertahanan. Ia mengatakan, “Persoalan saya adalah dengan anggaran. Pertama, saya telah berjanji kepada ibu-ibu, bapak-bapak, para suami-isteri dan anak-anak bahwa orang-orang yang mereka kasihi di medan perang itu akan mendapatkan setiap apa yang diperlukan. Saya menolak solusi menengah terkait masalah militer.”

Bila lemahnya anggaran secara parsial merujuk kepada kebijakan campur tangan secara finansial yang diterapkan Bush di masa akhir pemerintahannya -seperti yang dikatakan surat kabar itu-, maka presiden Amerika yang jabatannya sebentar lagi akan berakhir ini menjelaskan dalam wawancaranya yang lain di mana ia masih yakin bahwa campur tangan itu “amatlah diperlukan untuk melindungi runtuhnya perekonomian dan menjaga sistem pasar bebas.”

Seperti yang dikatakan Wall Street Journal, karena perang Iraq merupakan salah satu yang istimewa selama masa pemerintahan Bush, maka ia masih menganggapnya sebagai “peletakan batu pertama bagi kebijakan yang lebih universal untuk menyebarkan kebebasan di timur tengah.”

Bush mengatakan, agenda-agendanya tersebut sukses dan ia masih yakin bahwa sekalipun kebanyakan orang menilainya picisan dan terlalu ideal, hanya saja itulah satu-satunya sarana praktis dalam memberikan rasa aman untuk rentang waktu yang lama.

Ia juga mengungkapkan keyakinannya bahwa kawasan timur tengah sudah memasuki fase baru dan akan terus berjalan seperti itu selama Amerika tidak mengulur-ulur upaya internasionalisasi kebebasan.

Ketika menjawab pertanyaan yang diajukan surat kabar itu, “Bukankah akan lebih mudah bagi anda mengganti mantan presiden Iraq dengan orang yang lebih kuat.?” Bush mengatakan, dirinya menyadari sejak awal bahwa “pertarungan itu adalah ideologis, dan anda tidak mungkin menang dalam pertarungan-pertarungan ideologis itu dengan cara menggantikan orang baru yang lebih kuat dari yang lama.”

Dalam wawancara lainnya dengan surat kabar “The Washington Times,” ia menegaskan gagasan ini. Ia mengatakan, “Perang Iraq adalah perang yang sangat sulit, memerlukan banyak kerja keras untuk meyakinkan orang bahwa ia adalah perang. Padahal realitasnya ia adalah pertarungan ideologis.!!”

Dan saat surat kabar “Wall Street Journal” menanyakan tentang apa yang amat ingin ia lakukan setelah keluar dari gedung putih nanti, Bush mengatakan, “Posisi sebagai panglima tertinggi.” Sedangkan tentang pelajaran apa yang ia dapatkan selama menjadi presiden, ia mengatakan, “Aku mendapatkan pelajaran bahwa Tuhan Maha Mulia dalam setiap waktu.!!” (almkhtsr/Aljzr/AHS)
Sumber: alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MUDAH-MUDAHAN SEMUANYA BERMANFAAT...