Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah SWT menghendaki kebaikan (Surga) baginya, niscaya ia dibuat pandai dalam ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dari Muawiyah)

google search

Jumat, Oktober 31, 2008

UTUSAN 'AD


Dapatkan SMS Dakwah Gratis..! Daftarkan No. Simcard HP Anda! :: Cinta Rasulullah 'alaihish sholatu wassalaam ::

Hadits ini mengisahkan binasanya 'Ad, kaum Nabi Hud. Mereka tinggal di selatan jazirah Arabiyah. Mereka mendustakan Rasul Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka kekeringan dan kelaparan, akan tetapi mereka tetap gigih mempertahankan kekufuran. Mereka mengira bahwa kesulitan bisa ditanggulangi hanya dengan mengutus seorang utusan ke tanah suci untuk berdoa meminta hujan bagi mereka. Mereka tidak mengerti bahwa pemberi hujan adalah Allah dan bahwa mungkin bagi mereka untuk berdoa kepada-Nya di tempat mereka tinggal dan bahwa sebab terbesar yang bisa menolong mereka adalah iman kepada Rasul Allah yang diutus kepada mereka.

Mereka telah melakukan kesalahan manakala mereka tidak mengetahui bagaimana mengatasi ujian, mereka melakukan kesalahan kedua manakala menyerahkan urusan penting yaitu mencari hujan kepada orang pandir yang tidak layak. Lalu apa hasilnya? Utusan ini pergi, selama satu bulan menjadi pemabuk, dia mengenyangkan telinganya dengan mendengar lagu-lagu di rumah seorang temannya yang hartawan. Setelah satu bulan, dia berdoa kepada Tuhannya dengan doa orang-orang sombong yang tidak becus berdoa kepada Allah dan bermuamalah denganNya. Allah memberinya pilihan, dia memilih awan yang berisi azab yang menghancurkannya dan kaumnya. Utusan yang membawa sial bagi kaumnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari al-Harits bin Yazid al-Bakri berkata, aku pergi untuk mengadukan al-Ala' bin al-Hadrami kepada Rasulullah, aku melewati Rabadzah, aku melihat seorang wanita tua yang sedang sendiri dari Bani Tamim. Wanita tua ini berkata kepadaku, “Wahai hamba Allah, aku mempunyai hajat kepada Rasulullah, apakah kamu bersedia memberiku tumpangan kepadanya?” Al-Haris berkata, lalu aku membawanya, aku datang ke Madinah, pada saat itu orang-orang sedang berkumpul di masjid, aku melihat panji berwarna hitam berkibar sementara Bilal bersiap-siap dengan pedangnya di depan Rasulullah. Aku bertanya, “Ada apa?” Mereka menjawab, “Rasulullah hendak mengutus Amru bin Ash ke suatu daerah".
Al-Haris berkata, aku duduk, lalu Rasulullah masuk ke dalam rumahnya – atau kemahnya – aku meminta izin dan diberi izin. Aku masuk sambil memberi salam. Rasulullah bertanya, “Apakah di antara kalian dengan Tamim terjadi sesuatu?” Aku menjawab, “Ya, dan kami mengungguli mereka. Aku melewati seorang wanita tua dari Tamim dalam keadaan sendiri, dia memintaku membawanya kepadamu. Dia berada di pintu.” Rasulullah mengizinkan dan wanita itu masuk.

Aku berkata, "Ya Rasulullah, jika engkau berkenan menjadikan pembatas antara kami dengan Bani Tamim maka jadikanlah ad-Dahna' sebagai pembatas.” Wanita tua itu marah, dia berkata, “Ya Rasulullah, lalu ke mana engkau memaksa Mudhormu?” Aku berkata, “Aku ini seperti yang dikatakan oleh sebuah peribahasa, 'Seekor domba membawa kematiannya'. Aku telah membawa wanita ini, aku tidak tahu ternyata dia adalah seteruku. Aku berlindung kepada Allah dan RasulNya agar aku tidak menjadi seperti utusan 'Ad.” Nabi bertanya, “Katakan siapa itu utusan 'Ad.” Padahal Nabi lebih tahu ceritanya daripada dia, akan tetapi beliau ingin menenangkannya.

Aku berkata, kaum 'Ad tertimpa kekeringan, lalu mereka mengutus seorang utusan yang bernama Qail. Qail melewati Muawiyah bin Bakr, maka dia tinggal satu bulan di sisinya, minum khamr dan menikmati nyanyian dua penyanyi wanita yang bernama al-Jarodatain. Setelah satu bulan berlalu, Qail pergi ke gunung Tihamah dan memanggil, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak datang kepada orang sakit, lalu aku mengobatinya, aku tidak datang kepada tawanan, lalu aku membebaskannya dengan tebusan. Ya Allah berikan hujan kepada 'Ad seperti apa yang Engkau berikan.”

Lalu datanglah awan-awan berwarna hitam, dari awan terdengar panggilan, “Pilihlah.” Lalu dia memilih sebuah awan hitam. Kemudian terdegar seruan dari awan, “Ambillah dalam keadaan menjadi debu atau lebih halus dari debu dan jangan sisakan seorang pun dari 'Ad.”

Dia berkata, 'Yang aku dengar bahwa angin tidak dikirim kepada mereka kecuali seperti apa yang mengalir di cincinku ini sampai mereka binasa'."

Abu Wail berkata, "Dia benar." Dia berkata, setelah itu jika orang-orang mengutus utusan, mereka berpesan kepadanya, "Jangan seperti utusan kaum 'Ad." (HR. Ahmad dalam al-Musnad 3/482 dan at-Tirmidzi nomor 3273).

Syarah hadits

Seorang sahabat bernama al-Harits bin Yazid, ada yang bilang al-Harits bin Hassan, dia diutus oleh kaumnya sebagai delegasi kepada Rasulullah membawa pengaduan terhadap al-Ala' bin al-Hadrami. Di jalan dia melewati Rabadzah, sebuah daerah dekat Madinah, ada bertemu dengan wanita tua yang sedang sendiri, wanita itu meminta kepada al-Harits agar membawanya kepada Rasulullah manakala dia mengetahui bahwa al-Haris hendak ke sana.

Al-Haris tiba di Madinah yang sedang sibuk, para prajurit memenuhi masjid dan daerah sekelilingnya sementara Bilal menghunus pedangnya di hadapan Nabi saw.

Al-Harits bertanya, ada apa sebenarnya? Dia mendapatkan jawaban bahwa Rasulullah hendak mengirim Amru bin Ash memimpin pasukan ke arah tertentu.

Al-Harits menghadap Nabi saw setelah memberi salam. Nabi bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi antara kaumnya dengan Bani Tamim. Al-Harits bercerita bahwa peperangan pernah terjadi di masa jahiliyah antara mereka dengan Bani Tamim dan kemenangan milik Rabi'ah, kaumnya.

Al-Harits juga menyampaikan kepada Nabi saw tentang seorang wanita yang dibawanya dari Rabadzah dan wanita itu dari Bani Tamim. Wanita itu sedang menunggu di pintu menantikan izin masuk. Rasulullah saw mengizinkannya masuk. Pada saat itu al-Harits menyampaikan permintaannya yang merupakan titipan dari kaumnya, al-Harits meminta kepada Rasulullah agar dibuat pembatas antara Rabi'ah dengan Tamim dengan memberikan wilayah ad-Dahna' kepada Rabi'ah karena ia adalah wilayah mereka pada masa jahiliyah.

Begitu wanita tua dari Tamim ini mendengar ucapan al-Harits, dia langsung marah. Dia berkata kepada Rasulullah membela kaumnya, "Ke mana engkau memaksa Mudhormu?" Yakni suku Mudhor mau engkau kemanakan jika engkau memberikan ad-Dahna' kepada Rabi'ah?

Pada saat itu al-Harits menyadari telah melakukan sesuatu yang merugikan dirinya dan kaumnya dengan membawa wanita ini kepada Rasulullah, ternyata dia adalah seterunya. Maka al-Haris berperibahasa, "Domba membawa kematiannya." Maksudnya adalah dengan membawa wanita ini aku ibarat domba yang memikul beban di punggungnya di mana di situlah kematiannya. Kemudian al-Harits berkata, "Aku membawa wanita tua ini, aku tidak tahu jika dia adalah musuhku." Al-Harits tidak ingin menjadi seperti utusan 'Ad.

Ini adalah peribahasa lain yang diucapkan oleh al-Harits ini. Orang-orang Arab bilang, "Fulan seperti utusan kaum 'Ad." Peribahasa yang diucapkan bagi utusan yang membawa sial, dia diutus untuk mendatangkan kebaikan bagi kaumnya, tetapi justru dia pulang membawa bencana. 'Ad adalah salah satu kabilah Arab kuno. Allah mengutus kepada mereka Nabi Hud. Mereka mendustakannya, lalu mereka tertimpa kekeringan dan kelaparan, lalu mereka mengutus salah seorang pembesar mereka ke tanah suci Makkah agar orang ini meminta hujan bagi mereka di tanah suci dengan harapan permintaannya dikabulkan.

Utusan 'Ad ini pergi ke Tihamah meminta hujan bagi kaumnya yang sedang dalam musibah yang berat, dia melewati Muawiyah bin Bakar. Dia bermukim padanya selama satu bulan, minum khamr, menikmati nyanyian dua penyanyi wanita yang kesohor yang dikenal dengan al-Jarodatain.
Lihatlah utusan ini, dia bermain-main dan bernikmat ria dengan syahwat dan kesenangannya sendiri, melupakan tugas yang dibebankan kaumnya kepadanya, sibuk dengan nafsu pribadi.

Setelah puas dan kenyang, dia pergi ke gunung Tihamah untuk memohon hujan dengan lafazh yang mengisyaratkan kondisi kejiwaan yang ada pada dirinya. Dia berkata, "Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak pergi kepada orang sakit, lalu aku mengobatinya dan tidak kepada tawanan, lalu aku membebaskannya dengan tebusan. Ya Allah berikanlah hujan kepada 'Ad seperti apa yang telah engkau berikan."

Beginikah doa? Begitukah dia berkata kepada Allah. Dia sama sekali tidak menyampaikan hajat khusus kepadaNya. Yang diminta hanyalah hujan sebagaimana biasa. Dia tidak meminta hujan rahmat, tidak pula hujan yang membawa berkah. "Berikanlah hujan kepada 'Ad sebagaimana biasa." Dia meminta yang penting hujan tanpa peduli hujan rahmat atau hujan adzab.

Beberapa kelompok awan berjalan di atas kepalanya, darinya terdengar seruan agar dia memilih satu dari kelompok awan yang dilihatnya. Dia memilih awan yang paling hitam. Sudah tak becus berdoa, tak becus pula memilih, dia memilih awan azab.

Maka dikatakan kepadanya, "Ambillah dalam bentuk abu dan lebih halus dari abu," yakni debu yang halus dibawa oleh angin kencang yang menghancurkan segala sesuatu yang didatanginya termasuk kaum laki-laki itu. Dan keadaan angin ini adalah seperti yang Allah sampaikan di dalam kitabNya. Dan termasuk kesialan laki-laki ini adalah bahwa dia berdoa untuk orang yang memuliakan pengutusannya. Bisa jadi orang itu tertimpa apa yang menimpa kaum 'Ad. (Izzudin Karimi).

sumber: www.alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MUDAH-MUDAHAN SEMUANYA BERMANFAAT...