Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah SWT menghendaki kebaikan (Surga) baginya, niscaya ia dibuat pandai dalam ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dari Muawiyah)

google search

Selasa, Oktober 28, 2008

Resep Tsabat

Oleh: Agus Widodo

Pertarungan antara pendukung kebatilan dengan kebenaran tak kenal kata istirahat. Pertarungan ini bisa mengambil bentuk pertarungan fisik, pertarungan ideologi dan dapat pula berbentuk pertarungan informasi. Setiap Muslim sadar atau tidak, pasti terlibat pertarungan panjang tak berujung ini.

Salah satu sifat yang harus dimiliki "jundi" (prajurit) Muslim sebagai bekal dalam menerjuni pertarungan ini adalah "ats-tsabat" (keteguhan, ketegaran). Firman Allah Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian memerangi pasukan (musuh) maka berteguh-hatilah kalian dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, agar kalian berbahagia." (Q.S. Al Anfal:45).

Berdasarkan ayat di atas, "tsabat" memiliki posisi amat penting dalam daftar perbekalan yang harus dimiliki oleh orang yang sedang berjuang untuk memerdekakan umat manusia.

Oleh karena itu bagai seorang "jundi", "tsabat" merupakan sifat "harakiyah" yang apabila ia kehilangan sifat tersebut, secara otomatis "kejundiannya" tercabut dari dirinya.

Sejarah mencatat, bagaimana perjuangan Islam yang gagal akibat adanya orang-orang yuang terlibat dalam perjuangan kehilangan sifat "tsabat". Kekalahan (kalau kata ini tepat) yang dialami kaum Muslimin dalam Perang Uhud pun terjadi akibat adanya beberapa anggota pasukan pemanah yang tidak tsabat karena melihat "ghanimah" yang ditinggalkan musuh.

Tak dapat dipungkiri, untuk menangkal, menghadapi serta membalas kebrutalan jahiliyah yang ditopang berbagai kekuatan, umat Islam wajib memiliki kekuatan yang memadai dan seimbang dengan yang dimiliki musuh. Propaganda, "tabligh" atau "ta'lim" semata, tidak mungkin dapat menghancurkan benteng jahiliyah yang didukung kekuatan-kekuatan material, finansial, militer, politik disamping kekuatan propaganda dan informasi.

Umat Islam wajib memiliki kekuatan propaganda dan da'wah, sebagaimana ia wajib memiliki kekuatan finansial, politik dan militer.

Namun apalah artinya semua kekuatan itu tanpa adanya sikap mental yang prima. Segala faktor kekuatan eksternal itu akan menjadi tak berarti manakala tidak didahului dengan adanya kekuatan internal, berupa sikap dan sifat yang positif, diantaranya adalah "tsabat".

FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG TSABAT

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan, mempertahankan atau meningkatkan sifat "tsabat" ketika terjun di belantara da'wah, tarbiyah dan jihad. Di antaranya:

1. Mengakrabi Al-Qur'an

Al-Qur'an Al-Karim adalah sumber utama bagi tumbuh dan meningkatnya "tsabat", dalam jiwa seorang Muslim. Sebab Al-Qur'an merupakan tali penghubung yang amat kokoh antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Allah Ta'ala telah menegaskan bahwa Al-Qur'an mampu meneguhkan hati orang-orang yang mengimaninya. Firman-Nya:

"Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Rabb-mu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Q.S. An Nahl 102).

Ada beberapa hal yang menjadikan Al-Qur'an sumber "tsabat":

Pertama, Al-Quran menanamkan keimanan dan mempertautkan hati seorang Muslim dengan Allah Ta'ala. Membaca dan mendengar ayat Al-Qur'an dengan penuh tadabbur dan penghayatan, mampu menghadirkan perasaan sedang berhadapan dengan Allah menerima segala pesan, nasihat, perintah, dan larangan-Nya. Hal ini akan menjadi bekal ketika ia mengarungi kehidupan dengan segala serba-serbinya.

Kedua, Al-Qur'an membekali seseorang dengan persepsi, konsepsi serta nilai-nilai yang dijamin kebenarannya, sehingga ia mampu menialai dan menimbang segala sesuatu dengan proporsional dan benar. Orang-orang yang memahami Al-Qur'an, pasti tahu bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara. Dengan demikian dia akan menyikapi dunia ini dengan cara yang wajar sesuai dengan kehendak penciptanya.

Ketiga, Al-Qur'an menjawab berbagai tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang kafir dan munafik atau musuh Islam lainnya, serta mematahkan logika mereka yang rancu. Sehingga sikap "tsabat" yang tumbuh didasari kejelasan dalil yang ada.

Dalam kaitan ini Rasulullah SAW bersabda"

"Perumpamaan orang-orang Mu'min yang membaca Al-Qur'an bagaikan buah utrujah, baunya harum dan rasanya juga ni'mat. Dan perumpamaan orang mu'min yang tidak suka membaca Al-Qur'an bagaikan buah korma, rasanya manis tapi tidak berbau harum."(H.R. Muttafaq 'alaih).

2. Tarbiyah yang kontinyu dan bertahap

Tarbiyah (pendidikan, pembinaan) yang dijalankan secara kontinyu dan bertahap dengan sasaran dan tujuan yang jelas merupakan faktor asasi bagi terwujudnya "tsabat", dengan tarbiyah yang kontinyu ("istimrar") seseorang akan belajar dan terbiasa memikul beban-beban da'wah. Dengan adanya sasaran-sasaran dan tujuan ("ghayah") yang jelas, seseorang akan memahami sudah sejauh mana dia berjalan bersama Islam.

Keimanan yang mendalam, pemahaman Islam yang "syamil" (utuh) serta akhlaq yang tinggi yang didukung dengan semangat jihad yang tinggi, yang kesemuannya itu merupakan motor "tsabat", tidak mungkin terwujud tanpa pola pembinaan atau da'wah yang serabutan.

3. Memahami watak jalan da'wah dan perjuangan

Jalan da'wah tak hanya penuh onak dan duri, akan tetapi lebih dari itu, di atas jalan da'wah ada ranjau, ada mesiu dan ada bom waktu. Ada mata-mata yang mengintai dan seribu satu macam penghalang. Jalan da'wah juga bukan jalan yang dapat diukur dengan umur seseorang atau satu generasi. Panjang jalan da'wah sepanjang jalan kehidupan manusia di muka bumi ini.

Orang yang tidak memahami watak jalan da'wah dengan segala rintangan, ujian dan tantangannya akan mudah "shock" ketika dihadapkan pada tantangan atau mengalami "futur" (kelesuan) ketika dibenturkan pada ujian. Firman Allah Ta'ala:

"Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan dari (jenis) manusia dan dari (jenis) jin."(Q.S. Al An'am:112)

4. Iltizam dengan syari'at Allah dan amal sholeh

Allah Ta'ala berfirman:

"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan teguh itu (kalimat thayyibah) dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (Q.S. Ibrahim:27)

Orang yang malas melakukan amal sholeh dan senang hidup berleha-leha akan sulit bertahan tegar ketika gelombang fitnah menerpanya. Sebaliknya, orang yang rajin dan iltizam dengan syari'at Allah akan memiliki ketegaran dan keteguhan dalam menghadapi fitnah.

Oleh karena itu Rasulullah SAW dalam hidupnya senatiasa menjaga amal sholeh, dan amal yang paling beliau sukai adalah yang dilakukan secara kontinyu walaupun sedikit. Para sahabatnya pun jika melakukan pekerjaan, mereka menjaganya agar berjalan secara kontinyu. Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Barangsiapa yang memelihara shalat 12 rakaat (sunah rawatib) ia dijamin masuk surga."(Sunan At-Tirmidzi)

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman:

"Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya." (H.R. Bukhari )

5. Menghayati perjalanan hidup hamba-hamba Allah yang terdahulu

Teramat banyak pelajaran yang dapat membantu menumbuhkan "tsabat" yang dapat digali dari sejarah perjuangan hidup orang-orang sholeh yang telah kembali kepangkuan-Nya, mulai dari para nabi terutama Nabi Muhammad SAW, para sahabat Rasulullah SAW, para tabi'in dan sebagainya. Al-Qur'an sendiri menyebutkan banyak contoh ketegaran para utusan-Nya dalam menyebarkan risalah-Nya, dan Allah menegaskan di dalamnya:

"Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah setiap rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat itu telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (Q.S. Hud:120)

Di dalam Al-Qur'an digambarkan bagaimana para utusan Allah diburu, disiksa atau dibunuh oleh para penentangnya, namun demikian mereka tetap teguh dengan keimanannya. Rasulullah SAW sendiri mendapatkan perlakuan yang tidak berbeda dengan yang diterima oleh para pendahulunya, juga para sahabat.

Menyadari bahwa nenek moyang kita - Rasulullah SAW dan para sahabatnya merupakan umat yang besar, adalah kekayaan kita. Mengkaji dan menghayati setiap langkah gerakan generasi sahabat merupakan asset kebangkitan umat Islam. Membuka kembali lembaran-lembaran jihad dan perjuangan mereka dalam membangun Islam adalah modal perjuangan umat Islam yang tiada ternilai harganya.

6. Yakin bahwa masa depan di tangan Islam

Sunnatullah telah menentukan bahwa jika terjadi pertarungan antara yang iman dan kufur, antara yang haq dan bathil, yang akan keluar sebagai pemenang adalah iman dan al-Haq, betapapun besarnya kekuatan kebathilan itu.

Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan yang diraih oleh umat Islam dalam perjuangannya menegakkan "kalimatullah" bukanlah karena kekuatan material yang dimiliki umat Islam lebih besar dari yang dimiliki lawan. Yang tercatat bahkan sebaliknya, umat Islam dari segi materi selalu dalam posisi yang lemah.

Perhitungan matematis manusia mengatakan, Muslimin generasi pertama berpeluang untuk dilumat habis oleh musyrikin Quraisy. Beberapa alasan bisa dikemukakan; persiapan yang kurang matang karena tidak ada rencana untuk memerangi pasukan bersenjata Quraisy, yang diburu adalah iring-iringan unta yang membawa barang dagangan, personil yang berjumlah kecil - satu berbanding tiga - dibandingkan dengan orang-orang kafir, serta perlengkapan yang apa adanya. Itu semua dianggap cukup menjadi alasan bagi kekalahan kaum Muslimin.

Namun perhitungan seperti itu hanya berlaku dalam pertempuran antara kebathilan melawan kesesatan. Dalam pertempuran seperti ini kekuatan benar-benar menjadi andalan utama.

Sunnatullah kemenangan iman atas kekafiran itu terus berlangsung dan berulang dalam sejarah pertarungan antara keduanya. Catatan terakhir yang kita baca (bahkan kita saksikan) dalam perjuangan kontemporer adalah perjuangan Afghanistan atas tentara komunis Rusia dan para bonekanya. Kemenangan ini sungguh spektakuler di luar perhitungan matematis manusia.

Inilah kebenaran janji-janji Allah Ta'ala Pengendali alam semesta:

"Dan mereka (orang-orang kafir) merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya." (Q.S. An-Naml 50-51)

Firman-Nya pula:

"Maka Kami beri kekuatan kepada orang-orang yang beriman (dalam mengalahkan)musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang yang menang." (Q.S. As-Shaff:14)

Firman-Nya pula:

"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)."(Q.S. Al Mu'min:51)

Keterlambatan kemenangan, boleh jadi membawa hikmah dan pelajaran. As-Syahid Sayyid Quthb dalam Dzilal-nya menyebutkan tidak kurang dari delapan hikmah/pelajaran yang bisa ditarik dari ditangguhkannya kemenangan oleh Allah (lihat Fii Dzilalil Qur'an, yang berkaitan dengan ayat 38 surat Al-Hajj).
Beberapa di antaranya:

Pertama, boleh jadi karena bangunan umat Islam belum sempurna, masih banyak potensi dan kekuatan yang belum tergali. Sehingga andaipun ia mendapat kemenangan, umat Islam tidak akan mampu mempertahankannya.

Kedua, boleh jadi "thagut" yang sedang diperangi umat Islam berkedok Islam, sehingga sebagian besar umat Islam tertipu olehnya dan menjadi pembelanya.

Ketiga, boleh jadi dalam memperjuangkan Al-Haq, umat Islam masih memiliki tujuan-tujuan lain selain tegaknya kalimatullah. Sedangkan Allah menginginkan jihad itu murni bertujuan mencari ridla-Nya.

7. Merenungkan kenikmatan "jannah", siksa neraka dan mengingat kematian

Jannah adalah tempat yang sarat dengan kenikmatan dan kegembiraan yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia sekarang.

Jiwa manusia memiliki watak tidak senang berkorban atau bersusah payah dalam menghadapi cobaan, kecuali jika ia tahu ada imbalan yang dijanjikan. Dengan demikian segala kesulitan akan dirasakan ringan dan segala penderitaan akan dianggap sebagai cambuk untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

Rasulullah SAW dalam memperteguh keimanan para sahabat r.a., juga mengingatkan mereka dengan kenikmatan jannah. Ketika Rasulullah SAW lewat kepada Yasir, istrinya dan Ammar yang sedang menanggung siksaan dari orang Quraisy gara-gara mereka beriman, beliau mengatakan, "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, bersabarlah walai keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah surga."

Sebaliknya, ketika kita ingat adzab akhirat demikian dahsyat dan pedihnya, kita akan segera sadar bahwa bencana apapun yang ditimpakan oleh manusia kepada kita ketika berjuang di jalan Allah, tidak seberapa dibandingkan dengan adzab Allah di neraka nanti.

Salah satu bentuk siksaan Allah yang digambarkan dalam Al-Qur'an:

"Setiap kali matang (hancur) kulit-kulit mereka (penghuni jahannam), Kami ganti dengan kulit-kulit yang baru, agar mereka merasakan siksaan." (Q.S. An Nissa:56)

8. Dzikir dan Do'a

Di antara sifat-sifat para hamba Allah ('ibadur-rahman), senantiasa memohon kepada Allah agar diberi keteguhan ("tsabat"). Sebab upaya apapun yang dilakukan sebagai manusia, tidak akan mencapai apa yang dia inginkan bila tidak mendapat taufiq dari Allah Ta'ala.

Al-Qur'an menggambarkan bahwa orang-orang beriman selalu memanjatkan do'a:

"Ya Allah janganlah Engkau menjadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami."(Q.S.Ali'Imran 8)

Do'a yang dipanjatkan oleh orang-orang beriman yang menjadi tentara Thalut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (Q.S. Al Baqarah 250)

Rasulullah SAW menjelaskan:

"Seluruh hati anak Adam terdapat di antara dua jari dari jemari Ar-Rahman (Allah Ta'ala) bagaikan satu hati, ia memalingkannya kemana saja yang ia kehendaki." (H.R. Ahmad dan Muslim)

Oleh sebab itu amatlah wajar kalau Rasulullah SAW banyak memanjatkan do'a:
"Ya Allah Yang membolak-balikkan hati (manusia), teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (H.R. At-Tirmidzi)

Demikianlah beberapa petunjuk yang dapat kita amalkan guna menumbuhkan "tsabat" di dalam jiwa. Akhirnya semua terpulang kepada kemauan tekad kita masing-masing. Wallahu waliyut taufiq wahua a'alm bish shawwab.


Catatan: Tulisan ini merupakan modifikasi dari buku "Wasaailuts Tsabat 'alaa Diinillah", karya Muhammad Shaleh Al Munajjid

Referensi: "Fii Dzilalil Qur'an", oleh Asy-Syahid Sayyid Quth "Yang Berjatuhan Di Jalan Da'wah", oleh Syeikh Fathiyakan
"Komitmen Muslim Kepada Harakah Islamiyyah", oleh Syeikh Fathiyakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MUDAH-MUDAHAN SEMUANYA BERMANFAAT...