Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah SWT menghendaki kebaikan (Surga) baginya, niscaya ia dibuat pandai dalam ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dari Muawiyah)

google search

Jumat, Oktober 31, 2008


Dapatkan SMS Dakwah Gratis..! Daftarkan No. Simcard HP Anda! :: Cinta Rasulullah 'alaihish sholatu wassalaam ::

Saat Ajal Menjemput 3


Setelah Rasulullah saw dan para khulafa` rasyidin, maka sekarang giliran para sahabat beliau yang lain.

Muadz bin Jabal, seorang sahabat yang mulia, manakala maut datang menjemput dan ajal telah tiba, dia memanggil Tuhannya, "Ya Rabbi aku takut kepadaMu, pada hari ini aku berharap kepadaMu, ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyintai dunia karena mengalirnya sungai-sungai, tidak pula karena tanaman pohon-pohon, akan tetapi hanya itu hausnya panas yang terik, mengisi saat demi saat dan bergaul dengan para ulama dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmu." Kemudian ruhnya diangkat setelah dia mengucapkan la ilaaha illallah.

Bilal bin Rabah, ketika kematian mendatanginya, istrinya berkata, "Aku sangat sedih." Maka Bilal membuka penutup wajahnya sementara dia sedang menghadapi sakaratul maut. Dia berkata, "Jangan berkata begitu, akan tetapi katakan, 'Aku berbahagia'." Kemudian dia berkata, "Besok kita bertemu dengan orang-orang tercinta, Muhammad dan para sahabat."

Abu Dzar Al-Ghifari, ketika ajal menjemputnya, istrinya menangisinya. Abu Dzar berkata, "Apa yang membuatmu menangis?" Istrinya menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis sedangkan kamu meninggal di daerah terpencil tanpa kain yang cukup untuk menjadi kafanmu." Abu Dzar berkata, "Jangan menangis, berbahagialah karena aku telah mendengar Nabi saw bersabda kepada beberapa orang di mana aku adalah salah satu dari mereka, 'Niscaya salah seorang dari kalian akan mati di tanah terpencil yang disaksikan oleh beberapa orang mukmin. Tidak seorang dari orang-orang itu kecuali dia mati di desa dan di atas jamaah'. Akulah orang yang mati di daerah terpencil. Demi Allah aku tidak berdusta dan didustakan. Sekarang lihatlah jalanan." Istrinya menjawab, "Mana mungkin. Orang haji telah pergi, jalannya sepi." Abu Dzar berkata, "Lihatlah." Istrinya berkata, Lalu aku melihat, ternyata ada beberapa orang, aku mengibarkan selembar kain. Mereka datang dengan segera. Mereka berkata, "Ada apa wahai hamba Allah?" Aku menjawab, "Seorang muslim yang memerlukan kafan." Mereka bertanya, "Siapa dia?" Aku menjawab, "Abu Dzar." Mereka berkata, "Sahabat Rasulullah saw, kami korbankan bapak dan ibu kami untuknya."

Mereka mendatangi Abu Dzar. Abu Dzar menyampaikan berita gembira kepada mereka dan menyampaikan hadits di atas kepada mereka. Abu Dzar berkata, "Aku mohon kepada kalian dengan nama Allah. Janganlah seseorang dari kalian memberiku kafan sementara dia pernah jadi amir atau orang yang dikenal atau dia pegawai kantor administrasi." Ternyata semua yang hadir di situ pernah memperoleh itu kecuali seorang pemuda dari Anshar, maka kafannya dua helai baju dari pemuda itu dan Ibnu Mas'ud yang kebetulan salah satu dari mereka menshalatkannya.

Sahabat yang mulia Abu ad-Darda', manakala maut mendatanginya, dia berkata, "Adakah seorang laki-laki yang beramal untuk seperti kematianku ini. Adakah laki-laki yang beramal untuk hariku ini. Adakah laki-laki yang beramal untuk seperti saatku ini?" Lalu ruhnya berpisah dari tubuhnya.

Salman al-Farisi menangis sebelum wafat. Dia ditanya, "Mengapa kamu menangis?" Dia menjawab, "Rasulullah saw mewasiatkan kepada kami agar bekal kita seperti bekal orang yang musafir sementara di sekelilingku terdapat bekal-bekal ini." Padahal yang ada padanya hanya gentong air, nampan makan dan bejana untuk bersuci.

Al-Hasan bin Ali cucu Rasulullah saw dan sayid para pemuda penghuni surga, ketika ajal mendekatinya, dia berkata, "Keluarkan tempat tidurku ke teras rumah." Maka ia dikeluarkan. Lalu dia berkata, "Ya Allah sesungguhnya aku berharap pahala karena diriku kepadaMu karena aku tidak pernah tertimpa sepertinya."

Sahabat yang mulia Muawiyah bin Abu Sufyan berkata kepada orang-orang di sekelilingnya pada saat menjelang kematiannya, "Dudukkan aku." Maka mereka mendudukkannya. Muawiyah duduk berdzikir kepada Allah, kemudian dia menangis. Dia berkata, "Sekarang wahai Muawiyah kamu datang mengingat Tuhanmu setelah jatuh dan runtuh. Mengapa itu tidak kamu lakukan sementara kamu masih muda di puncak masa muda?" Lalu dia menangis dan berkata, "Ya Rabbi, ya Rabbi. Sayangilah seorang laki-laki tua yang durhaka, pemilik hati yang keras. Ya Allah maafkanlah kesalahan, ampunilah dosa, limpahkan maafMu kepada orang yang tidak berharap kepada selainMu dan tidak percaya kepada siapa pun selainMu." Kemudian dia wafat.

Sahabat yang mulia Amru bin 'Ash menangis lama sekali sebelum dia wafat. Dia memalingkan wajahnya ke tembok. Anaknya bertanya, "Apa yang membuatmu menangis wahai bapakku? Bukankah Rasulullah saw telah memberimu berita gembira?" Lalu Amru memandang mereka dengan wajahnya dan berkata, "Sesungguhnya bekal yang paling baik yang kami siapkan adalah syahadat la ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah. Aku berada di atas tiga tahapan. Aku melihat diriku, tidak seorang pun yang paling membenci Rasulullah saw melebihi diriku, tidak seorang pun yang paling berharap bisa membunuhnya melebihi diriku. Jika aku mati dalam kondisi itu pasti aku termasuk penghuni neraka. Manakala Allah telah menjadikan Islam di dalam hatiku, aku mendatangi Nabi saw. Aku berkata kepada beliau, "Ulurkan tangan kananmu, aku membaiatmu." Maka Nabi saw mengulurkan tangan kanannya dan aku menarik tanganku. Nabi saw heran, "Ada apa denganmu wahai Amru?" Aku menjawab, "Aku mau syarat." Nabi saw bertanya, "Syarat apa?" Aku menjawab, "Dosaku diampuni." Nabi saw bersabda, "Apa kamu tidak tahu bahwa Islam menghapus apa yang sebelumnya dan hijrah menghapus apa yang sebelumnya serta haji menghapus apa yang sebelumnya?" Setelah itu tidak seorang pun yang lebih aku cintai melebihi Rasulullah saw, tidak seorang pun yang lebih indah di mataku melebihi Rasulullah saw. Aku tidak mampu memandang secara langsung kepadanya karena kewibawaannya. Jika aku diminta untuk mensifatinya niscaya aku tidak bisa melakukannya karena aku tidak pernah memandang kepadanya dengan kedua mataku secara langsung. Jika aku mati dalam keadaan itu niscaya aku berharap termasuk penghuni surga. Kemudian kami mengurusi berbagai urusan. Aku tidak tahu keadaanku padanya. Jika aku mati maka jangan diiringi dengan ratapan dan api. Jika kalian menguburku maka ratakanlah tanah di atasnya. Kemudian berdiamlah di sekeliling kuburku selama waktu yang dibutuhkan untuk menyembelih onta dan membagikan dagingnya sehingga aku terhibur dengan kalian dan menjawab pertanyaan utusan Tuhanku."
(Izzudin Karimi)

sumber: www.alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MUDAH-MUDAHAN SEMUANYA BERMANFAAT...