Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah SWT menghendaki kebaikan (Surga) baginya, niscaya ia dibuat pandai dalam ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dari Muawiyah)

google search

Jumat, Oktober 31, 2008

Tauriyah, Berkelit Dalam Kondisi Sulit


Terkadang seseorang terjebak dalam kondisi sulit dan situasi berat, dia menghadapi pilihan di antara dua perkara di mana yang paling manis dari keduanya adalah pahit, berkata jujur dan terus terang, akibatnya adalah sesuatu yang tidak diharapkan, pahit dan babak belur, atau berkata bohong dan berdusta, akibatnya memikul dosa. Simalakama, tetapi tidak bagi orang-orang yang memiliki kemampuan berbicara tingkat tinggi dan keahlian diplomasi level atas, dengannya dia berkelit licin bagaikan belut, alhasil dia tidak berdusta dan tidak pula babak belur, inilah seni berkelit yang dikenal di kalangan orang-orang Arab dengan tauriyah yang berarti mengucapkan kata-kata multi makna, makna yang dekat dan langsung dipahami oleh lawan bicara dan makna yang jauh yang baru bisa dipahami setelah mengernyitkan dahi, maksud pembicara adalah makna yang jauh sementara lawan bicara memahami makna yang dekat.

Di antara deretan orang-orang tersebut adalah Ibrahim, salah satu buktinya adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya Kitabul Buyu' bab Syira`ul Amah min Kafir Harbi au Hibatuha au I’taquha nomor 2217 dari Abu Hurairah berkata Nabi saw bersabda, "Ibrahim berhijrah bersama Sarah, keduanya melewati sebuah negeri yang yang dikuasai oleh seorang raja sombong. Raja diberitahu bahwa Ibrahim datang bersama seorang wanita yang sangat cantik." Maka dia bertanya kepada Ibrahim, "Wahai Ibrahim siapa wanita yang bersamamu?" Ibrahim menjawab, "Saudara perempuanku." Kemudian Ibrahim kembali kepada Sarah dan berkata, "Jangan mendustakan ucapanku aku telah mengatakan kepada mereka kalau kamu adalah saudaraku, demi Allah di bumi ini tidak ada orang yang beriman selain diriku dan dirimu."

Latar belakang jawaban Ibrahim kepada raja lalim ini adalah keinginan Ibrahim untuk menyelamatkan diri dan istrinya dari raja ini, alkisah bahwa setelah Allah menyelamatkan Ibrahim dari api dia bersama istrinya pergi ke negeri yang jauh, di sana dia tidak memiliki pendukung. Dalam kondisi seperti ini orang-orang zhalim lagi lalim berhasrat untuk menerkam orang seperti Ibrahim. Ibrahim menghadapi ini manakala dia singgah di negeri dengan seorang raja yang sombong lagi serakah yang gemar merebut istri orang. Raja ini mendengar kedatangan Ibrahim di negerinya dengan seorang wanita yang tergolong paling cantik di dunia.

Salah satu kebiasaan mereka jika mereka menginginkan seorang wanita adalah menyiksa suaminya, jika wanita tersebut bersuami. Tetapi jika wanita itu lajang maka mereka tidak akan mengganggu kerabatnya. Oleh karena itu Ibrahim berkata kepada utusan raja itu ketika dia bertanya tentang Sarah bahwa dia adalah saudara perempuannya, supaya bisa selamat dari siksaannya. Ibrahim juga menjelaskan pandangannya dalam hal ini kepada istrinya, bahwa dia adalah saudara perempuannya dalam agama yakni dalam iman dan Islam, karena di muka bumi pada masa itu tidak terdapat orang yang beriman selain keduanya.

Dengan ini Ibrahim selamat tanpa harus berdusta, ini satu. Masih ada dua lagi sebagaimana dalam riwayat lain di Shahih al-Bukhari Kitabul Anbiya bab Qauluhu Ta’ala, Wattakhadzallahu Ibrahima Khalila nomor 3358 dari Abu Hurairah, "Ibrahim tidak berdusta –[ini bukan dusta tetapi ini adalah tauriyah, dengan membaca kisah kita memahami, ia dinamakan dusta sebagai ungkapan majazi, penulis]- kecuali tiga, dua di antaranya karena Allah, yaitu ucapan Ibrahim, 'Sesungguhnya aku sakit." (QS. As-Shaffat: 89). Dan ucapan Ibrahim, "Sebenarnya patung besar itulah pelakunya." (QS. Al-Anbiya: 63). Dan yang ketiga adalah seperti yang telah dijelaskan di atas.

Yang kedua adalah ucapan Ibrahim kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku sakit.” Ucapan Ibrahim ini ketika kaumnya mengajaknya berpartisipasi dalam perayaan hari raya mereka yang batil lagi syirik. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Ibrahim berkata demikian kepada kaumnya agar bisa tetap tinggal di kota pada saat mereka merayakan hari besar mereka, Ibrahim ingin menghancurkan berhala-berhala kaumnya ketika kota sepi, maka Ibrahim berkata bahwa dirinya sakit, mereka memahaminya sakit pada umumnya.

Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan perkataan-perkataan para mufassirin tentang maksud sakit dalam ucapan Ibrahim. Sufyan berkata, “Sakit, yakni saya sakit tha’un.” Dan mereka takut kepada penyakit yang satu ini. Ada yang berkata, “Sakit, yakni yang akan datang sebelum mati.” Ada yang berkata, “Sakit, yakni sakit hati terhadap perbuatan kalian yang menyembah berhala.” Al-Hasan al-Bashri berkata, “Kaum Ibrahim pergi merayakan hari besar mereka, mereka mengajaknya, lalu Ibrahim terlentang seraya berkata, ‘Saya sakit.’ Dia melihat bintang-bintang, ketika mereka pergi, Ibrahim mendatangi berhala-berhala mereka dan menghancurkannya.

Yang ketiga adalah ucapannya, "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya." (QS. Al-Anbiya: 63), ucapan ini dikatakan oleh Ibrahim di depan kaumnya setelah dia menghancurkan berhala dan membiarkan patung terbesar setelah mengalungkan kapak di lehernya dan dia menyatakan bahwa patung besar inilah penghancur patung-patung kecil. Ibrahim melakukan ini agar mereka kembali kepada diri mereka sendiri dengan bertanya dan berpikir bahwa berhala besar ini adalah benda mati, mana mungkin ia bisa menjawab dan mana mungkin ia bergerak menghancurkan berhala-berhala kecil? Selanjutnya, kalau berbicara saja tidak kuasa dan bergerak saja tidak mampu, apakah pantas diangkat sebagai sesembahan? Ibrahim hendak menetapkan kedunguan dan kepandiran mereka di depan khalayak ramai, sehingga hujjah dan argumentasinya lebih menohok, inilah yang diinginkan oleh Ibrahim dan ia terwujud.

Allah berfirman, “Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, ‘Siapakah yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.’ Mereka berkata, ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.’ Mereka berkata, ‘(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.’ Mereka bertanya, ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’ Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).’ Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), ‘Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.’ Ibrahim berkata, ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu?"’Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Apakah kamu tidak memahami?” (Al-Anbiya`: 57-67).

Dengan alasan telah melakukan tiga perkara ini, Ibrahim tidak berkenan memberi syafaat kepada manusia di Padang Mahsyar di hadapan Allah karena dia merasa berdosa telah melakukan tiga tauririyah tersebut. Itulah Ibrahim “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.” (Al-An’am: 83).
(Izzudin Karimi)

sumber: www.alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MUDAH-MUDAHAN SEMUANYA BERMANFAAT...