Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah SWT menghendaki kebaikan (Surga) baginya, niscaya ia dibuat pandai dalam ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dari Muawiyah)

google search

Jumat, Oktober 31, 2008

Satu Kalimat Saja


Dapatkan SMS Dakwah Gratis..! Daftarkan No. Simcard HP Anda! :: Cinta Rasulullah 'alaihish sholatu wassalaam ::

Satu kalimat ini benar-benar dahsyat, pengaruhnya hebat, dampaknya luar biasa, maknanya agung, konsekuensinya berat, keutamaannya tertinggi, kunci Islam, pembuka alam akhirat, kalimat ini adalah kalimat tauhid, la ilaha illallah, tiada Tuhan yang haq selain Allah.

Rasulullah saw menawarkan kalimat ini kepada orang-orang Makkah, sekelompok menerima dan berserah diri, sekelompok menolak dan mengingkari, seandainya kelompok yang menolak meyakini kebenaran janji beliau, “Aku hanya menginginkan dari kalian satu kalimat saja, dengannya kalian menguasai bangsa Arab dan menundukkan bangsa non Arab.”

Manakala Abu Thalib sakit parah dan hal itu terdengar oleh orang-orang Quraisy, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lainnya, “Sesungguhnya Hamzah dan Umar telah masuk Islam, sementara perkara Muhammad ini telah tersiar di kalangan kabilah-kabilah Arab seluruhnya. Oleh karena itu marilah kita bergegas menjenguk Abu Thalib agar dia mencegah keponakannya dan menitipkan pemberian kita kepadanya. Demi Allah! Kita tidak dapat menjamin, bisa saja mereka merebut kekuasaan.”

Mereka yang terdiri dari para pemuka kaumnya, akhirnya menemui Abu Thalib dan berbicara dengannya. Di antara mereka ada Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahl bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf dan Abu Sufyan bin Harb, dengan diiringi tokoh-tokoh selain mereka yang berjumlah sekitar 25 orang. Mereka berkata, “Wahai Abu Thalib! Sesungguhnya engkau, seperti yang engkau ketahui, adalah bagian dari kami dan saat ini, sebagaimana yang engkau saksikan sendiri, telah terjadi sesuatu pada dirimu. Kami sangat mencemaskan kondisimu. Sesungguhnya engkau telah tahu apa yang terjadi antara kami dan keponakanmu. Untuk itu, desaklah dia agar mau menerima (sesuatu) dari kami dan kami juga akan menerima (sesuatu) darinya. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi saling mencampuri urusan masing-masing, dia tidak mencampuri urusan kami, demikian juga dengan kami. Desaklah dia agar membiarkan kami menjalankan agama kami, seperti halnya kami juga membiarkannya menjalankan agamanya.”

Abu Thalib mengirimkan utusan untuk meminta beliau saw datang. Beliau pun datang, lalu pamannya tersebut berkata, “Wahai keponakanku! Mereka itu adalah pemuka-pemuka kaummu. Mereka berkumpul karenamu, untuk memberimu sesuatu dan mengambil sesuatu darimu.”

Kemudian Abu Thalib memberitahukan kepada beliau apa yang telah diucapkan dan disodorkan oleh mereka kepadanya, yakni bahwa masing-masing pihak tidak boleh saling mencampuri urusan.

Rasulullah saw berkata kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian bila aku berikan kepada kalian satu kalimat yang bila kalian ucapkan niscaya kalian akan dapat menguasai bangsa Arab dan menundukkan bangsa non Arab?”

Dalam lafazh yang diriwayatkan Ibnu Ishaq disebutkan, “Satu kalimat saja yang kalian berikan (baca: yang kalian ikrarkan), niscaya dengannya kalian akan bisa menguasai bangsa Arab dan orang-orang non Arab akan tunduk kepada kalian.”

Tatkala beliau mengucapkan kalimat tersebut, mereka berdiri tertegun, bimbang dan tidak tahu bagaimana dapat menolak satu kalimat yang berguna sampai demikian ini? Kemudian Abu Jahal menanggapi, “Kalau begitu, apa kalimat itu? Demi ayahmu! Sungguh aku akan memberikannya kepadamu, bahkan sepuluh kali lipatnya.”

Beliau menjawab, “Kalian ucapkan, ‘La ilaha illallah’ dan kalian tinggalkan sesembahan selainNya.”

Mendengar kalimat tersebut, mereka menepuk-nepukkan tangan mereka, (tanda tidak setuju) seraya berseru, “Wahai Muhammad! Apakah kamu ingin menjadikan ilah-ilah (tuhan-tuhan) yang banyak menjadi satu saja? Sungguh aneh polahmu ini.”

Kemudian masing-masing berkata kepada yang lainnya, “Demi Allah! Sesungguhnya orang ini tidak memberikan apa yang kalian inginkan, pergilah dan tetap berpeganglah kepada agama nenek moyang kalian hingga Allah memutuskan antara kalian dan dirinya (siapa yang berada dalam kebenaran).” Setelah itu mereka pun bubar.

Dalam hal ini Allah swt menurunkan firmanNya, “Shaad, demi al-Qur`an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.’ Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), ‘Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. Ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (Shaad: 1-7)
(Izzudin Karimi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MUDAH-MUDAHAN SEMUANYA BERMANFAAT...