Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah SWT menghendaki kebaikan (Surga) baginya, niscaya ia dibuat pandai dalam ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dari Muawiyah)

google search

Sabtu, November 15, 2008

Menuju Rumah Tangga Harmonis 7

oleh : Departemen Ilmiah Darul Wathan


  • Pernikahan Merupakan Petunjuk Para Nabi dan Rasul ‘alaihum salam.

    Barangsiapa yang membencinya, sungguh dia telah menyelisihi sunnah dan menentang petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

    أَمَا وَاللّهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلّهِ، وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّيْ وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ.

    "Demi Allah!! Sungguh aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala di antara kalian. Tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur, aku pun menikahi wanita-wanita. Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia bukan termasuk umatku." (Muttafaq ‘alaih).

    Beliau shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda,

    حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلاَةِ.

    "Yang paling aku sukai dari dunia kalian adalah wanita, minyak wangi (parfum), dan shalat sebagai penyejuk mata hatiku." (HR. an-Nasa`i, dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

  • Pernikahan sebagai realisasi dari memenuhi panggilan Allah Subhaanahu wa ta'ala.

    Sebagaimana firmanNya,

    وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui." (An-Nur: 32)

  • Pernikahan adalah panggilan fitrah

    Barangsiapa yang meninggalkannya dan mencari selainnya, sungguh ia telah menyelisihi fitrah tersebut. Dan barang-siapa yang menyelisihinya, niscaya ia berada di jurang kehancuran.

    Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman,

    فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

    "(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah." (Ar-Rum: 30)

  • Pernikahan merupakan salah satu nikmat Allah Subhaanahu wa ta'ala yang paling agung bagi hamba-hambaNya, jalan menggapai kasih sayang, langkah menuju bahagia, tanda kemapanan dan sarana untuk meraih anugerah.

    Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman,

    وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

    "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Rum: 21)

  • Pernikahan adalah jalan syar’i untuk menyalurkan kebutuhan biologis dan syahwat secara halal.

    Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman,

    وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

    "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas". (Al-Mu’minun: 5-7)

  • Pernikahan sebagai perisai para pemuda dan pemudi dari fitnah dan penyimpangan, kefasikan dan kemaksiatan.

    Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan kepada para pemuda untuk segera menikah sebagaimana sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam,

    يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

    "Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian ada yang mampu menikah, maka hendaklah ia menikah. Sungguh ia (pernikahan) dapat lebih menahan pandangan dan dapat lebih memelihara kemaluan. Dan barang-siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Sungguh ia adalah peredam baginya." (Muttafaq ‘alaih)

  • Pernikahan jalan mudah dan telah dimudahkan (oleh Allah Subhaanahu wa ta'ala) untuk meraih pahala dari Allah Subhaanahu wa ta'ala.

    Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita bahwa sebaik-baik infak adalah infak yang diberikan kepada istri dan keluarga.

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

    دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ سَبِيْلِ اللّهِ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَفْضَلُهُمْ الدِّيْنَارُ الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكُ.

    "Satu dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dan satu dinar yang kamu infakkan untuk membebaskan budak, dan satu dinar yang kamu sedekahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang kamu infakkan untuk istrimu, maka yang paling utama adalah satu dinar yang kamu infakkan untuk istrimu." (HR. Muslim).

    Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda pula kepada Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu,

    وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغشيْ بِهَا وَجْهَ اللّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِيْ امْرَأَتِكَ.

    "Sungguh tidaklah kamu menginfakkan suatu infak semata untuk mencari wajah Allah, melainkan kamu mendapatkan pahala padanya. Bahkan apa yang kamu letakkan pada mulut istrimu." (Muttafaq ‘alaih(

    Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda,

    إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا، فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ.

    "Jika seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya semata-mata mengharapkan wajah Allah, maka nafkah tersebut adalah sedekah baginya." (Muttafaq ‘alaih.(

    Dan yang lebih agung dari itu semua adalah pahala yang diberikan kepada suami dan istri tatkala melakukan jima’ (bersetubuh) dan hubungan intim.

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

    وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلُ اللّهِ! أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالُ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ.

    "Dan dalam persetubuhan kalian terdapat sedekah" Mereka (para sahabat) bertanya, "Ya Rasulullah! Salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya (kepada istrinya). Apakah ia mendapatkan pahala padanya? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Bagaimana menurutmu, seandainya seseorang menyalurkan syahwatnya pada suatu yang haram, apakah ia berdosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya pada suatu yang halal, ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim)

  • Pernikahan yang sukses adalah yang dibangun di atas dasar-dasar syar’i yang benar.

    Di antara dasar-dasar tersebut yang paling agung adalah keshalihan pasangan suami istri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MUDAH-MUDAHAN SEMUANYA BERMANFAAT...